25 April 2024

Apa Itu Sensitive Periods?

Apakah kamu pernah mendengar tentang istilah "Sensitive Periods" dalam dunia psikologi? Ini adalah konsep menarik yang dapat membantu kita memahami perkembangan anak secara lebih dalam. Jika kamu seorang orang tua, guru, atau bahkan hanya penasaran tentang bagaimana otak anak-anak bekerja, yuk kita cerna bersama!

Sensitive Periods, atau yang juga sering disebut sebagai "periode sensitif," adalah istilah yang digunakan dalam psikologi perkembangan anak untuk menggambarkan jendela waktu tertentu ketika anak sangat menerima pengaruh dari lingkungan mereka. Ini adalah periode ketika otak anak berada dalam mode "spons" yang siap menyerap semua pengalaman dan pengetahuan yang dapat mereka peroleh. Namun, jangan salah sangka, periode sensitif ini memiliki tenggat waktu dan akan berlalu.

Konsep periode sensitif ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog terkenal, Maria Montessori, yang mengamati bahwa anak-anak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap pembelajaran selama fase tertentu dalam perkembangan mereka. Mari kita bahas bagaimana ini terkait dengan psikologi anak-anak.

 

1. Pembelajaran Bahasa

Salah satu contoh yang paling terkenal dari periode sensitif adalah belajar bahasa. Selama masa ini, biasanya di antara usia 0 hingga 7 tahun, anak-anak memiliki kemampuan alami untuk menyerap bahasa dengan cepat dan dengan sedikit usaha. Inilah mengapa banyak ahli bahasa menyarankan untuk memulai pembelajaran bahasa asing pada usia dini.

Psikologisnya, ini terkait dengan perkembangan otak anak yang sedang pesat. Pusat-pusat bahasa dalam otak sedang berkembang, dan anak-anak memiliki kemampuan untuk mengenali suara dan pola bahasa dengan cepat. Oleh karena itu, memanfaatkan periode sensitif ini dengan memberikan lingkungan yang kaya akan bahasa akan memberikan keuntungan besar dalam perkembangan bahasa anak.

 

2. Kemampuan Motorik

Periode sensitif juga berlaku untuk perkembangan motorik anak. Saat anak berusia antara 2 hingga 4 tahun, mereka memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perkembangan keterampilan motorik kasar, seperti berjalan, melompat, dan berlari. Pada periode berikutnya, antara 4 hingga 6 tahun, fokus berpindah ke keterampilan motorik halus, seperti menulis dan menggambar.

Ini adalah momen penting dalam psikologi anak karena kemampuan motorik yang baik dapat membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih percaya diri. Oleh karena itu, penting untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain dan bergerak aktif selama periode sensitif ini.

 

3. Kemampuan Sosial dan Emosional

Selama masa kanak-kanak, anak-anak juga melewati periode sensitif dalam pengembangan kemampuan sosial dan emosional. Mereka mulai memahami perasaan mereka dan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ini adalah saat yang ideal untuk memperkenalkan konsep empati, kerjasama, dan penyelesaian konflik.

Dalam konteks psikologi, periode sensitif ini membantu membentuk fondasi penting dalam perkembangan sosial anak-anak. Ini juga merupakan waktu yang penting bagi orang tua dan guru untuk memberikan dukungan emosional dan memberi contoh perilaku yang positif.

Periode sensitif adalah salah satu konsep paling menarik dalam psikologi perkembangan anak. Ini mengingatkan kita bahwa setiap tahap dalam hidup anak memiliki keunikan sendiri dalam pembelajaran dan perkembangan. Dengan memahami konsep ini, kita dapat memberikan dukungan yang lebih baik kepada anak-anak dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan. Jadi, mari kita manfaatkan periode sensitif ini dengan memberikan pengalaman yang kaya dan positif kepada anak-anak kita, karena setiap momen dalam perkembangan mereka adalah peluang untuk tumbuh dan berkembang.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
 

Referensi : 

MacNamara, Deborah. 2023. The Power of Sensitive Periods: How to Help Your Child Thrive.


 

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...