Bagaimana Media Sosial Membentuk Perjuangan Perempuan Generasi Now?
Quarter-life crisis seringkali dianggap sebagai periode kebingungan dan ketidakpastian yang melanda kaum muda saat berada di usia 20-an hingga awal 30-an. Bagi banyak perempuan muda, tekanan dari media sosial dan teknologi dapat menjadi pemicu kuat bagi krisis ini. Mari kita jelajahi bagaimana dampaknya mempengaruhi kesehatan mental dan strategi untuk menghadapinya.
Media sosial telah menjadi pemandangan sehari-hari bagi banyak dari kita, dengan segudang platform yang menampilkan kehidupan sempurna, prestasi, dan kebahagiaan orang lain, seringkali kita merasa tidak mencukupi. Bagi perempuan muda yang sedang berjuang mencari identitas dan arah hidupnya, ini bisa menjadi pukulan berat.
Perbandingan konstan dengan orang lain, pencarian validasi melalui likes dan komentar, serta tekanan untuk mempertahankan citra yang sempurna secara online dapat memberi tekanan tambahan pada kesehatan mental. Dalam dunia yang semakin terhubung, perempuan muda sering merasa terisolasi dan tidak diakui.
Selain itu, teknologi juga mempengaruhi pola tidur dan pola pikir. Paparan terus-menerus terhadap layar dan informasi dapat mengganggu tidur yang berkualitas, yang pada gilirannya dapat memperburuk masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Namun, bukan berarti kita harus menyerah pada dampak negatif ini, terdapat langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasi tekanan dari media sosial dan teknologi. Pertama-tama, penting untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan kehidupan orang lain yang disajikan secara selektif. Memiliki kesadaran diri yang kuat tentang hal ini dapat membantu mengurangi perasaan tidak mencukupi.
Selanjutnya, kita perlu mengatur batasan sehat dalam penggunaan media sosial dan teknologi. Ini bisa berarti mengurangi waktu yang dihabiskan online, menghapus atau menyembunyikan akun yang membuat kita merasa tidak nyaman, atau bahkan melakukan detoks media sosial sesekali.
Terapi dan konseling juga bisa menjadi alat yang sangat efektif dalam mengatasi quarter-life crisis dan dampak media sosialnya. Berbicara dengan seorang profesional dapat membantu kita mengidentifikasi sumber tekanan dan belajar strategi untuk mengelolanya dengan lebih baik.
Quarter-life crisis adalah tantangan yang nyata bagi banyak perempuan muda, dan dampak media sosial dan teknologi hanya membuatnya lebih kompleks. Namun, dengan kesadaran diri, batasan yang sehat, dan dukungan profesional, kita dapat mengatasi krisis ini dengan lebih baik. Ingatlah bahwa kita tidak sendiri dalam perjuangan ini, dan bahwa ada sumber daya dan bantuan yang tersedia untuk membantu kita melaluinya dengan sukses.
Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.
Referensi:
Gates, Lindsey. 2017. Quarter-Life Epiphany: Finding Your Path When You Feel Stuck.