19 Juli 2024

Dampak mindset yang salah dalam keuangan (misal punya duit ya harus dihamburin, bukannya di invest dll)

Ini Pelajaran Tentang Mindset Finansial yang Perlu Kamu Ketahui!

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada orang yang terus menerus mendapatkan kekayaan sedangkan yang lain terjebak dalam kemiskinan? Jawabannya mungkin lebih sederhana daripada yang kamu kira. Dibalik fenomena ini, tersembunyi sebuah pola pikir dalam mengelola keuangan yang mungkin tidak kita sadari. Mari kita telusuri lebih dalam.

Mengamati masyarakat kita, terdapat pola yang menarik: orang kaya cenderung semakin kaya, sementara orang miskin terperangkap dalam kemiskinan. Namun, apa yang membedakan mereka bukanlah keberuntungan semata, melainkan pola pikir yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Kebiasaan Konsumtif vs. Investasi

Orang kaya cenderung memandang uang sebagai alat untuk memperoleh lebih banyak uang. Mereka memahami bahwa dengan mengalokasikan sebagian dari pendapatan mereka untuk berinvestasi, mereka dapat menciptakan arus kas pasif yang berkelanjutan dan membangun kekayaan jangka panjang. Sebaliknya, orang miskin sering kali terjebak dalam pola pikir konsumtif di mana mereka menghabiskan uang mereka untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan segera tanpa memikirkan tentang masa depan. Ini mengarah pada kekurangan dana untuk diinvestasikan dan menyebabkan mereka terus-menerus bergantung pada pendapatan yang aktif.

Pendidikan dan Kesadaran Finansial

Orang kaya sering memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan dan informasi keuangan. Mereka menyadari pentingnya memiliki pengetahuan tentang manajemen keuangan dan investasi untuk membangun kekayaan jangka panjang. Oleh karena itu, mereka cenderung berinvestasi waktu dan upaya untuk belajar, membaca buku, menghadiri seminar, atau bahkan mengikuti program pendidikan keuangan. Di sisi lain, orang miskin seringkali kurang kesadaran akan pentingnya pendidikan finansial dan mungkin tidak memiliki akses atau minat untuk meningkatkan pengetahuan mereka dalam hal ini.

Sikap Terhadap Risiko

Orang kaya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara risiko dan imbalan dalam investasi. Mereka menyadari bahwa untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi, mereka perlu mengambil risiko yang terukur. Oleh karena itu, mereka cenderung lebih berani dalam mengambil keputusan investasi yang berisiko. Di sisi lain, orang miskin sering kali terpengaruh oleh ketakutan akan kegagalan dan lebih memilih untuk tetap dalam zona nyaman mereka. Mereka cenderung menghindari risiko dan mungkin enggan untuk mencoba investasi yang berpotensi menguntungkan karena takut kehilangan uang.

Polanya Konsumsi dan Investasi

Orang kaya cenderung berpikir jangka panjang dalam hal keuangan. Mereka menggunakan uang mereka untuk menghasilkan lebih banyak uang melalui investasi jangka panjang seperti properti, saham, atau bisnis. Mereka memahami bahwa dengan mengorbankan beberapa kepuasan instan, mereka dapat menciptakan keamanan finansial dan membangun kekayaan yang bertahan lama. Di sisi lain, orang miskin seringkali fokus pada kepuasan instan dan konsumsi yang tidak produktif. Mereka lebih mementingkan hal-hal seperti belanja barang-barang mewah, liburan, atau hiburan daripada mengalokasikan uang mereka untuk investasi jangka panjang.

Dalam keseluruhan, perbedaan dalam pola pikir dan perilaku keuangan inilah yang mempengaruhi ketidakseimbangan finansial antara orang kaya dan orang miskin. Untuk mengatasi hal ini, penting bagi individu untuk meningkatkan kesadaran finansial mereka, memperbaiki kebiasaan konsumtif, dan mengubah sikap terhadap risiko untuk memperoleh keuntungan jangka panjang.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari pola ini? Tentu saja, penting untuk menyadari bahwa kekayaan tidak hanya tentang seberapa banyak uang yang kamu miliki saat ini, tetapi juga tentang cara kamu mengelolanya. Dengan memperbaiki pola pikir dan kebiasaan finansial kita, kita bisa membalikkan pola ini dan membangun kekayaan yang berkelanjutan.

Untuk membantu kamu memahami lebih dalam tentang pola pikir dan kebiasaan finansial kamu, konsultasikan dengan profesional dari vendor psikotes resmi dengan psikolog HIMPSI di Smile Consulting Indonesia. Dengan jasa psikotes online termurah dan konsultasi terbaik yang mereka tawarkan, kamu dapat mengidentifikasi pola pikir yang mungkin menghambat kemajuan keuangan kamu. Kunjungi situs mereka hari ini untuk memulai perjalanan menuju kebebasan finansial yang lebih baik.

Referensi: 

Piketty, Thomas. 2013. Capital in the Twenty-First Century.

Artikel Terkait

2 April 2025
Subsidi Bikin Ketergantungan? Ini yang Harus Kamu Ketahui tentang Bantuan Sosial! Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa ada kesenjangan yang begitu besar antara orang kaya dan yang miskin? Mengapa...
2 April 2025
Bukan Hanya Soal Gaji, Mengapa Kamu Harus Paham Tentang Cicilan vs. Bayar Penuh?Gaji besar atau kecil bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi kekayaan kamu. Satu hal kecil seperti memilih antar...
2 April 2025
Mengapa Orang dengan Finansial Sedang Lebih Konsumtif? Ada sebuah fenomena menarik yang sering kali terjadi di sekitar kita: orang-orang dengan finansial sedang atau bahkan kurang cenderung lebih kons...