10 Juli 2024

Dilema Quarter Life Crisis, Benarkah Mereka Merasa Tersesat antara Passion dan Karir?

Dilema Quarter Life Crisis, Benarkah Mereka Merasa Tersesat antara Passion dan Karir?




 

Quarter life crisis, sebuah fase kehidupan yang seringkali dianggap remeh namun memiliki dampak besar terhadap individu, khususnya kaum pria. Bagi sebagian besar pria, masa peralihan ini menjadi saat yang penuh tantangan, di mana mereka harus mempertimbangkan antara passion dan karir. Namun, mengapa cowok lebih sering terjebak dalam situasi ini ketika mengalami quarter life crisis?


 

Quarter life crisis seringkali dianggap sebagai fenomena yang melanda kaum muda, khususnya mereka yang berusia antara awal hingga pertengahan 20-an. Ini adalah masa di mana seseorang mulai mempertanyakan jalan hidupnya, merasa kebingungan tentang karir, hubungan, dan identitas diri. Bagi banyak cowok, tantangan terbesar dalam quarter life crisis adalah menemukan keseimbangan antara passion dan karir.


 

Ketika mencari jalan hidup yang memuaskan, cowok sering kali merasa tertekan oleh harapan sosial dan budaya yang menggiring mereka ke arah karir yang konvensional. Tekanan untuk sukses, memiliki penghasilan yang stabil, dan mendapatkan status sosial tertentu dapat mengaburkan pandangan mereka terhadap apa yang sebenarnya mereka inginkan. Sebagai hasilnya, banyak dari mereka mengejar karir yang dianggap "layak" atau "prestisius" tanpa memperhitungkan passion mereka.


 

Namun, seiring berjalannya waktu, keputusan ini bisa menimbulkan perasaan hampa dan kekosongan. Cowok mungkin berhasil dalam karir mereka, tetapi mereka merasa kehilangan dalam hal kepuasan pribadi dan keseimbangan hidup. Mereka menyadari bahwa mereka telah mengorbankan passion mereka demi pencapaian yang dianggap sebagai standar kesuksesan.


 

Peran stereotip gender dalam hal ini menempatkan tekanan pada cowok untuk mencapai kesuksesan dalam karir. Budaya yang memuja maskulinitas dan pencapaian material cenderung mendorong cowok untuk memprioritaskan pencapaian dalam karier sebagai tanda nilai sebagai seorang pria. Hal ini menciptakan tekanan psikologis bagi mereka untuk mencapai standar yang telah ditetapkan oleh masyarakat, seringkali mengorbankan keinginan dan minat pribadi mereka.


 

Dalam banyak kasus, cowok merasa tidak memiliki pilihan selain mengejar karir yang dianggap "berhasil" oleh norma-norma gender yang ada. Ini bisa terasa seperti tanggung jawab yang besar dan tidak ada ruang untuk eksplorasi atau penemuan diri yang sejati. Harapan untuk menjadi pria yang sukses dalam karier dapat membuat mereka merasa terjebak dalam sebuah permainan yang tidak mereka pilih, tanpa mempertimbangkan minat atau bakat mereka yang sebenarnya.


 

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua cowok terjebak dalam dilema ini. Ada yang berhasil menemukan keseimbangan antara passion dan karir. Mereka yang berhasil melakukan ini seringkali adalah mereka yang berani mengeksplorasi minat dan bakat mereka dengan jujur, bahkan jika itu berarti melawan norma-norma gender yang ada. Mereka mungkin memilih untuk mengejar karir yang sesuai dengan minat mereka, atau mereka mungkin menemukan cara untuk menggabungkan passion mereka dengan karir yang konvensional.


 

Yang penting adalah dukungan sosial yang kuat dalam melawan tekanan eksternal. Teman, keluarga, atau bahkan mentor yang mendukung dan memahami perjuangan mereka dapat menjadi kunci kesuksesan dalam menavigasi quarter life crisis ini. Dengan dukungan ini, mereka merasa lebih berani untuk mengejar apa yang mereka sukai dan meraih kesuksesan yang sesuai dengan definisi mereka sendiri, bukan definisi yang diberlakukan oleh masyarakat atau budaya.


 

Keseimbangan antara passion dan karir bisa menjadi pencapaian yang memuaskan bagi banyak cowok, karena mereka berhasil menemukan cara untuk hidup sesuai dengan nilai dan minat mereka sendiri. Ini adalah langkah penting dalam menanggapi quarter life crisis dengan baik, dan membuka jalan bagi pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan.


 

Dalam menghadapi quarter life crisis, mendapatkan dukungan dari konsultan psikologi bisa sangat membantu. Di biro psikologi Smile Consulting Indonesia yang sudah aktif bergabung HIMPSI, dan resmi siap menawarkan berbagai layanan konsultasi dan tes minat bakat untuk membantu individu menemukan keseimbangan antara passion dan karir dalam hidup mereka. Dengan bantuan yang tepat, quarter life crisis dapat menjadi peluang untuk pertumbuhan dan pemahaman diri yang lebih dalam.





 

Referensi: 


Batubara, Bernard. 2017. Quarter Life Crisis: Panduan Menghadapi Krisis Usia 20-an.

Artikel Terkait

16 Juli 2024
Cowok Dewasa, Atasi Krisis Quarter Life dengan 7 Tips Ini! Krisis quarter life, siapa yang tak mengenalnya? Jika kamu merasa seperti jatuh ke dalam jurang yang gelap dan tak terduga di usia 25-an...
16 Juli 2024
Menghadapi Krisis Quarter-Life, Cara Kamu Temukan Arti Hidup dan Tujuan Quarter-life crisis, sebuah fenomena psikologis yang dikenal sebagai masa peralihan menuju dewasa yang sering kali menimbul...
15 Juli 2024
10 Pressure Paling Nyeremin Buat Cowok di Masa Quarter Life Crisis! Ada yang Kena? Quarter life crisis, siapa yang nggak tau soal ini? Para kaum adam pastinya sudah pernah merasakannya. Dimana ad...