Kenapa orang dengan finansial sedang lebih konsumtif dibandingkan mereka yang kaya?
Ada sebuah fenomena menarik yang sering kali terjadi di sekitar kita: orang-orang dengan finansial sedang atau bahkan kurang cenderung lebih konsumtif daripada mereka yang memiliki kekayaan berlimpah. Tampaknya paradoks ini membingungkan banyak orang, tetapi jangan khawatir, kita akan mengupasnya lebih dalam dalam artikel ini.
Peran Kebutuhan dan Kepuasan
Orang-orang dengan finansial sedang sering kali terjebak dalam siklus konsumsi karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mendasar. Mereka mungkin memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan, tetapi mungkin tidak memiliki surplus untuk investasi atau tabungan jangka panjang. Sebaliknya, orang kaya mungkin lebih fokus pada investasi jangka panjang atau diversifikasi portofolio mereka.
Pengaruh Media dan Iklan
Kita hidup dalam masyarakat yang dipenuhi dengan iklan dan tekanan konsumsi. Orang dengan finansial sedang mungkin lebih rentan terhadap pengaruh media dan iklan karena kurangnya kesadaran finansial atau kemampuan untuk menilai dengan kritis informasi yang mereka terima. Sebaliknya, orang kaya mungkin lebih terlatih untuk mengelola pengaruh iklan dan memilih untuk fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup mereka.
Tekanan Sosial dan Gengsi
Pada beberapa kasus, orang dengan finansial sedang mungkin merasa perlu untuk terlihat sukses atau memenuhi standar sosial tertentu melalui konsumsi material. Hal ini bisa mencakup memiliki barang-barang mewah, berlibur di tempat-tempat eksklusif, atau membeli barang-barang baru secara teratur. Tekanan sosial dan gengsi ini dapat mendorong mereka untuk menghabiskan lebih banyak uang daripada yang sebenarnya mereka mampu.
Dalam kesimpulan, kita melihat bahwa ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa orang dengan finansial sedang lebih konsumtif daripada mereka yang kaya. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan, pengaruh media dan iklan, serta tekanan sosial dan gengsi semuanya berperan dalam membentuk perilaku konsumtif ini. Bagi yang ingin memahami lebih dalam mengenai faktor-faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumtif, Smile Consulting Indonesia siap membantu dengan jasa psikotes online dan konsultasi. Dengan bantuan HIMPSI, biro psikologi terbaik di Indonesia, kamu dapat memahami lebih baik tentang diri kamu dan bagaimana pengaruhnya terhadap keputusan finansialmu. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari jasa psikotes temurah, konsultasi bepengalaman 10 tahun, atau tes minat bakat untuk membantu dalam rekrutmen dan penjurusan karirmu. Mari bersama-sama meningkatkan pemahaman kita tentang perilaku konsumtif dan mencapai keuangan yang lebih sehat.
Referensi:
Piketty, Thomas. 2013. Capital in the Twenty-First Century.