Hidup ini penuh dengan pilihan, dan sebagian besar dari kita berusaha untuk membuat keputusan yang baik dan benar. Tetapi, apa yang terjadi ketika kamu dihadapkan pada situasi di mana kedua pilihan yang tersedia tampaknya memiliki nilai moral yang setara? Inilah yang disebut dengan moral dilemmas, suatu konsep dalam dunia psikologi yang akan kita telusuri disini.
Apa Itu Moral Dilemmas?
Pertama-tama, mari kita definisikan apa itu moral dilemmas. Moral dilemmas adalah situasi di mana individu dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang saling bertentangan, di mana setiap pilihan memiliki implikasi moral yang signifikan. Dalam kata lain, ini adalah momen-momen di mana kamu merasa terjebak antara apa yang benar dan apa yang salah.
Contoh yang sering digunakan dalam penelitian moral dilemmas adalah "Dilema Trolley." Kamu mungkin pernah mendengarnya. Bayangkan kamu berada di atas jembatan yang menggantung di atas rel kereta api. Kamu melihat sebuah kereta yang sedang melaju menuju lima pekerja yang tidak sadar di jalur kereta tersebut. Kamu memiliki kesempatan untuk mengalihkan kereta ke jalur yang lain, tetapi pada jalur itu ada satu pekerja yang juga tidak sadar. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu membiarkan kereta melaju terus ke lima pekerja atau kamu mengubah jalurnya, tetapi mengorbankan satu orang?
Psikologi Moral Dilemmas
Sekarang, mari kita telusuri lebih dalam mengenai apa yang ada di balik moral dilemmas dari sudut pandang psikologi.
1. Konflik Batin
Ketika kamu berhadapan dengan moral dilemmas, otak kamu harus menyeimbangkan nilai-nilai moral yang berlawanan. Ini menciptakan konflik batin yang kuat yang memengaruhi pikiran dan emosi kamu. Bagian dari otak yang terlibat dalam proses ini adalah korteks prefrontal, yang berperan dalam pengambilan keputusan dan kontrol diri.
2. Teori Moral Kohlberg
Salah satu teori moral yang terkemuka adalah teori moral Kohlberg. Menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral melibatkan tiga tingkatan, yaitu pramoral, konvensional, dan poskonvensional. Moral dilemmas sering digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan moral seseorang. Seseorang yang mencapai tingkat poskonvensional lebih mungkin membuat keputusan moral yang berdasarkan pada prinsip-prinsip etika universal.
3. Pengaruh Sosial dan Budaya
Moral dilemmas juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Apa yang dianggap sebagai keputusan moral yang benar atau salah dapat berbeda antar budaya dan komunitas. Selain itu, tekanan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang membuat keputusan moral dalam situasi dilemmas.
4. Empati dan Simpati
Kemampuan untuk merasakan empati dan simpati terhadap orang-orang yang terlibat dalam dilemmas dapat memengaruhi keputusan moral. Seseorang yang memiliki tingkat empati yang tinggi mungkin lebih cenderung mengambil tindakan yang melindungi orang lain, bahkan jika itu berarti mengorbankan diri sendiri.
Moral dilemmas adalah tantangan psikologis yang memerlukan keseimbangan antara nilai-nilai moral, emosi, dan pemikiran rasional. Mereka memungkinkan kita untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana pikiran manusia bekerja ketika dihadapkan pada konflik moral. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali harus membuat keputusan yang sulit, dan pemahaman tentang moral dilemmas dapat membantu kita menjadi pembuat keputusan yang lebih bijak dan etis. Yang terpenting, moral dilemmas mengajarkan kita bahwa moralitas adalah suatu hal yang kompleks, dan tidak selalu ada jawaban yang jelas.
Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.
Referensi :
Greene, Joshua. 2022. Moral Dilemmas: From Theory to Practice.