24 April 2024

Social Loafing Jadi Penyebab Timmu Sering Gagal? Yuk Kenali Apa Itu!

Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa timmu sering gagal dalam mencapai tujuan bersama? Ternyata, jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang disebut 'Social Loafing.' Jadi, mari kita kenali bersama apa sebenarnya Social Loafing itu!

Social Loafing adalah kecenderungan seseorang untuk berkontribusi lebih sedikit dalam sebuah kelompok daripada jika mereka bekerja sendiri. Misalnya, saat kamu bekerja dalam tim untuk tugas sekolah atau proyek di tempat kerja, kamu mungkin merasa bahwa seseorang dalam timmu tidak berusaha sekeras yang lainnya. Itu adalah salah satu bentuk Social Loafing!

 

Kenapa Kita Melakukan Social Loafing?

Mengapa kita seringkali malas saat bekerja dalam kelompok? Psikologi memiliki beberapa jawabannya!

1. Diffusion of Responsibility

Ini adalah fenomena di mana kita cenderung mengurangi tanggung jawab kita saat ada banyak orang dalam kelompok. Misalnya, saat kamu berada dalam sebuah tim, kamu mungkin berpikir, "Orang lain pasti akan menyelesaikan pekerjaan ini, jadi saya tidak perlu terlalu keras bekerja." Ini adalah akibat dari terdistribusinya tanggung jawab di dalam kelompok.

2. Anonymity

Saat berada dalam kelompok besar, kita mungkin merasa lebih tidak dikenal atau tidak terlihat. Ini dapat membuat kita merasa aman untuk tidak berusaha keras karena tidak ada yang memperhatikan atau menilai kita secara individual.

3. Perasaan Aman dalam Jumlah

Beberapa orang mungkin merasa lebih nyaman ketika mereka adalah salah satu dari banyak orang dalam kelompok. Mereka merasa tidak ada tekanan besar pada diri mereka sendiri dan akhirnya melonggarkan usaha mereka.

4. Kurangnya Keterlibatan Pribadi

Kita cenderung lebih terlibat secara pribadi dalam pekerjaan kita saat kita bekerja sendiri. Dalam kelompok, kita mungkin merasa kurang memiliki tugas tersebut secara pribadi, sehingga kita tidak memberikan usaha maksimal.

 

Apa Dampaknya?

Social Loafing bisa memiliki dampak negatif dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks sekolah, tugas kelompok yang dipengaruhi oleh Social Loafing dapat mengakibatkan hasil yang kurang memuaskan. Di tempat kerja, ini bisa menghambat kemajuan proyek dan produktivitas tim. Jadi, penting untuk memahami dan mengatasi Social Loafing.

 

Cara Mengatasi Social Loafing

Bagaimana kita bisa mengatasi Social Loafing? Ini beberapa tips yang bisa membantu:

  • Jelasnya Peran dan Tanggung Jawab: Pastikan setiap anggota kelompok memahami peran dan tanggung jawab mereka dengan jelas. Ini akan membuat setiap orang merasa lebih bertanggung jawab.
  • Keterlibatan Individual:  Mendorong setiap anggota kelompok untuk merasa terlibat secara pribadi dalam tugas yang diberikan. Ini dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan untuk berkontribusi dan berbagi ide.
  • Komunikasi Terbuka: Berbicaralah terbuka dalam kelompok. Jika ada masalah atau ketidaksetujuan, bicarakanlah secara konstruktif agar semua anggota merasa didengarkan dan dihargai.
  • Evaluasi Kinerja: Evaluasi kinerja individu dalam kelompok secara teratur. Ini dapat memberikan insentif bagi semua anggota untuk berusaha lebih keras.

 

Social Loafing adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi kualitas kerja dalam kelompok. Namun, dengan pemahaman yang baik tentang psikologinya dan usaha bersama, kita dapat mengatasi tantangan ini. Ingatlah, setiap anggota dalam kelompok memiliki peran penting dalam mencapai tujuan bersama. Mari bekerja sama dan berusaha maksimal untuk mencapai kesuksesan!

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia dikenal sebagai pusat asesmen Indonesia yang memberikan berbagai layanan, termasuk jasa psikotes dan asesmen individu, dengan proses yang efisien dan hasil mendalam.
 

Referensi : 

Leary, R. Mark & Kowalski, M. Robin. 2023. The Psychology of Social Loafing: Social Facilitation, Evaluation Apprehension, and Group Productivity.


 

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...