26 April 2024

Ternyata, Kesulitan Bisa Menjadi Peluang untuk Tumbuh dan Bersinar!

Ketika kita mendengar tentang trauma, pikiran kita seringkali langsung terarah pada pengalaman yang pahit dan menyakitkan. Namun, dunia psikologi telah mengungkap sebuah konsep menarik yang mengajarkan kita bahwa bahkan dalam momen-momen paling sulit sekalipun, kamu memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang. Inilah yang disebut dengan Post Traumatic Growth (PTG), yang akan kita bahas disini.

 

Apa Itu Post Traumatic Growth?

Post Traumatic Growth (PTG) adalah konsep dalam psikologi yang merujuk pada perubahan positif yang dapat terjadi dalam diri seseorang setelah mengalami trauma atau pengalaman hidup yang sangat sulit. Dalam kata lain, PTG adalah kemampuan kamu untuk tumbuh dan berkembang, bahkan dalam bayang-bayang kesulitan yang mendalam.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh dua psikolog, Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun, pada tahun 1995. Mereka mempelajari orang-orang yang mengalami berbagai jenis trauma, seperti kematian orang yang dicintai, penyakit serius, atau kecelakaan, dan menemukan bahwa sebagian dari mereka tidak hanya pulih dari trauma tersebut, tetapi juga mengalami pertumbuhan positif.

 

Komponen-Komponen Post Traumatic Growth

PTG terdiri dari beberapa komponen utama:

1. Peningkatan Hubungan Sosial

Beberapa orang yang mengalami trauma melaporkan bahwa mereka lebih menghargai hubungan sosial mereka setelahnya. Mereka menjadi lebih peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

2. Peningkatan Kepribadian

PTG dapat mengubah kepribadian kamu menjadi lebih kuat dan tahan banting. Kamu bisa menjadi lebih sabar, tangguh, dan mampu menghadapi tantangan.

3. Peningkatan Kepemimpinan

Beberapa orang yang mengalami PTG menemukan bahwa mereka memiliki kemampuan kepemimpinan yang lebih baik. Mereka dapat memandu orang lain melalui masa-masa sulit.

4. Peningkatan Harga Diri

Sebagian orang merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri setelah mengalami trauma. Mereka mungkin merasa lebih kuat dan mampu mengatasi rintangan.

5. Peningkatan Pandangan Hidup

PTG seringkali disertai dengan perubahan pandangan hidup yang lebih positif. Orang-orang ini mungkin lebih bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup dan menghargai arti sebenarnya dari kebahagiaan.

 

Bagaimana dapat PTG terjadi?

PTG terjadi bukan karena trauma itu sendiri, tetapi karena bagaimana individu merespons dan mengatasi trauma tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya PTG:

  • Dukungan sosial: Mendapatkan dukungan dari teman, keluarga, atau terapis dapat membantu individu mengatasi trauma dan memulai proses PTG.
  • Resiliensi: Orang yang memiliki tingkat resiliensi yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi trauma dan mengalami pertumbuhan positif.
  • Refleksi: Merenungkan pengalaman trauma dan mencoba memahami maknanya dalam hidup dapat membantu dalam proses PTG.
  • Penerimaan Emosi: Mengizinkan diri kamu sendiri untuk merasakan emosi yang muncul akibat trauma, termasuk emosi negatif, adalah langkah penting dalam proses PTG.
  • Perubahan Sikap Mental: Mengubah sikap mental dari korban menjadi survivor dapat membantu kamu mengatasi trauma dan mencapai pertumbuhan positif.

 

Post Traumatic Growth adalah pengingat bahwa bahkan dalam momen-momen paling sulit dalam hidup kita, masih ada harapan untuk tumbuh dan berkembang. Ini adalah kemampuan manusia untuk menjalani transformasi positif setelah mengalami badai. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami trauma, ingatlah bahwa proses pemulihan tidak hanya tentang pulih, tetapi juga tentang tumbuh.

Semua orang berbeda, dan tidak semua orang akan mengalami PTG setelah trauma. Namun, dengan dukungan sosial yang tepat, refleksi diri, dan sikap mental yang positif, ada peluang besar untuk mengalami pertumbuhan positif setelah badai kehidupan. Ingatlah, kita semua memiliki potensi untuk menjadi lebih kuat daripada yang kita kira ketika menghadapi cobaan hidup.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia dikenal sebagai pusat asesmen Indonesia yang memberikan berbagai layanan, termasuk jasa psikotes dan asesmen individu, dengan proses yang efisien dan hasil mendalam.
 

Referensi : 

Resick, C. Jennifer & Keane, M. Terence. 2022. Posttraumatic Growth in Children and Adolescents: A Resilience-Based Approach.


 

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...