Tes Draw‐A‑Person Test (DAP) merupakan salah satu metode asesmen kepribadian dan intelektual yang cukup dikenal di bidang psikologi. Tes ini meminta peserta untuk menggambar manusia, lalu hasil gambar tersebut dianalisis berdasarkan berbagai aspek seperti proporsi, detil tubuh, dan karakter visual lainnya. Artikel ini akan membahas apa itu DAP, bagaimana penggunaannya untuk mengukur intelektual serta mengeksplorasi kepribadian, serta apa saja keterbatasannya secara sederhana dan mudah dipahami.
Tes DAP awalnya dikembangkan oleh Florence L. Goodenough pada tahun 1926 dengan nama “Draw‐a‐Man Test”. Kemudian diadaptasi oleh psikolog lain seperti Karen Machover yang meningkatkan penekanan pada aspek kepribadian. Pada pelaksanaannya, peserta diminta menggambar seseorang (atau sejumlah gambar: laki-laki, perempuan, diri sendiri) dalam waktu yang ditentukan, lalu gambar itu diberi skor ataupun dianalisis secara kualitatif untuk melihat aspek kognitif maupun emosional.
Beberapa versi DAP mencoba menggunakan skor gambar manusia sebagai indikasi kemampuan intelektual seseorang, khususnya pada anak-anak. Sebagai contoh, versi kuantitatif seperti DAP:QSS (Quantitative Scoring System) menunjukkan korelasi yang moderat dengan tes intelegensi nonverbal seperti matriks Raven. Namun, penelitian terkini menyimpulkan bahwa DAP tidak layak digunakan sebagai alat utama untuk mengukur intelektual atau IQ. Sebagai contoh, sebuah studi menemukan bahwa DAP:IQ memiliki korelasi yang sangat rendah dan tingkat kesalahan positif/negatif yang tinggi ketika digunakan untuk skrining intelektual. Dengan demikian, DAP lebih cocok digunakan sebagai salah satu instrumen pelengkap daripada pengganti tes intelegensi standar.
Selain aspek intelektual, DAP juga digunakan sebagai tes proyektif untuk mengeksplorasi kepribadian, representasi diri, citra tubuh, serta hubungan sosial seseorang. Dalam pendekatan ini, gambar manusia dianggap sebagai proyeksi terhadap bagaimana seseorang memandang diri sendiri ataupun hubungannya dengan orang lain. Misalnya, detail gambar, posisi figur, atau elemen ekspresi dapat diinterpretasikan oleh psikolog sebagai indikasi kecemasan, citra tubuh yang negatif, atau kondisi emosional lain. Studi tentang DAP dan indeks kecemasan menemukan bahwa ada beberapa indikasi korelasi, tetapi interpretasi tetap memerlukan kehati-hatian.
Kelebihan:
Keterbatasan:
Sebagai biro psikologi yang menyediakan layanan asesmen, Anda dapat menggunakan DAP sebagai bagian dari paket tes kepribadian atau sebagai alat tambahan untuk memahami klien secara lebih holistik. Tapi penting untuk menyampaikan kepada klien bahwa hasilnya bukanlah ukuran definitif intelektual atau kepribadian secara tunggal. Misalnya:
“Gambar ini membantu kita melihat bagaimana Anda menggambarkan figur manusia, kita bisa diskusikan bersama aspek-aspek yang muncul, namun bukan berarti ini menyimpulkan semua tentang Anda.”
Kemudian, hasil DAP bisa dikombinasikan dengan tes kepribadian kuantitatif, wawancara, atau observasi untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Tes Draw-A-Person dapat menjadi alat yang menarik dan berguna dalam konteks asesmen psikologi, terutama untuk eksplorasi kepribadian dan pembicaraan reflektif dengan klien. Namun, untuk pengukuran intelektual, penggunaannya harus sangat berhati-hati karena bukti empiris menunjukkan keterbatasan yang signifikan. Sebagai praktisi, penting untuk mengkomunikasikan keterbatasan tersebut dan menggunakan DAP sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas dan integratif.
Sebagai biro psikologi yang menyediakan jasa psikotes individu dan kelompok, Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi yang tidak hanya akurat, tetapi juga bertanggung jawab secara etis dan edukatif.
Referensi: