“The greatest weapon against stress is our ability to choose one thought over another.”
— William James
Bayangkan kamu duduk di depan layar, huruf-huruf melintas satu per satu, seperti A, X, O, lalu tiba-tiba sebuah huruf yang kamu tunggu muncul. Sekejap, jarimu menekan tombol. Lalu menunggu lagi, menanti, menyaring, mengendalikan diri agar tidak salah menekan.
Itulah inti dari Continuous Performance Test (CPT), sebuah alat yang sederhana, namun menyimpan kekuatan besar untuk menyingkap salah satu misteri paling rumit dalam psikologi: perhatian. CPT bukan hanya tes komputer yang mengukur fokus atau kecepatan reaksi. Ia adalah cermin kecil dari dunia batin manusia, dunia yang sering bergetar antara konsentrasi dan kebimbangan, antara kendali dan impuls.
CPT pertama kali diperkenalkan oleh Rosvold, Mirsky, Sarason, Bransome, dan Beck (1956) sebagai alat untuk menilai kemampuan mempertahankan perhatian pada pasien dengan kerusakan otak. Dalam perkembangannya, tes ini menjadi pilar penting dalam psikologi klinis dan neuropsikologi, terutama untuk memahami gangguan seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Namun jauh melampaui label “tes ADHD”, CPT adalah jendela menuju cara otak memproses dunia secara terus-menerus. Ia mengukur kemampuan otak untuk bertahan dalam kebosanan, menjaga fokus ketika tidak ada hal menarik yang terjadi.
Di dalam ruang hening itu, CPT menilai empat hal penting:
- Sustained attention – seberapa lama seseorang mampu menjaga fokus.
- Selective attention – kemampuan menyaring informasi yang relevan.
- Impulsivitas – kecenderungan untuk bertindak terlalu cepat tanpa berpikir.
- Kecepatan pemrosesan – waktu yang dibutuhkan otak untuk merespons rangsangan.
Dalam tes CPT, seseorang diminta untuk memperhatikan serangkaian stimulus, huruf, angka, atau bentuk, yang muncul di layar. Tugasnya sederhana: tekan tombol hanya ketika target tertentu muncul, dan tahan diri saat yang lain lewat. Namun di balik kesederhanaannya, CPT menguji sesuatu yang jauh lebih dalam: disiplin perhatian. Ketika seseorang gagal merespons target (disebut error of omission), itu menandakan penurunan fokus.
Sebaliknya, jika seseorang menekan tombol saat stimulus yang salah muncul (error of commission), itu mengindikasikan impulsivitas atau kegagalan menghambat dorongan spontan. Dari sini, para peneliti dapat membaca peta halus dari mekanisme perhatian, kontrol diri, dan kestabilan kognitif. Durasi tes biasanya 10–15 menit, namun dalam dunia psikologi, itu cukup lama untuk melihat bagaimana pikiran manusia perlahan bergeser dari waspada menjadi lalai, dari fokus menjadi melayang.
Dalam dunia riset, kegagalan mempertahankan perhatian selama CPT telah lama diperdebatkan. Ada dua teori besar yang saling bertolak belakang. Teori underload mengatakan bahwa ketika tugas terlalu monoton, otak kita menurun tingkat gairahnya, seperti lilin yang perlahan padam karena kehabisan oksigen. Kebosanan membuat pikiran mengembara.
Sebaliknya, teori overload berpendapat bahwa perhatian justru runtuh karena kelelahan kognitif. Otak bekerja keras untuk terus memproses stimulus yang datang tanpa henti, dan akhirnya sumber dayanya menipis. Dalam kedua teori itu, CPT menjadi semacam laboratorium kecil tempat manusia diuji di antara dua ekstrem: terlalu sedikit rangsangan, atau terlalu banyak beban.
Selama puluhan tahun, CPT telah menjadi instrumen penting dalam diagnosis ADHD, skizofrenia, demensia, bahkan gangguan kecemasan. Melalui analisis reaksi dan kesalahan, para psikolog dapat mengenali pola khas yang membedakan antara perhatian yang mudah terganggu dengan impulsivitas yang sulit dikendalikan. Namun CPT juga membuka percakapan yang lebih luas, tentang bagaimana perhatian bukan sekadar fungsi otak, melainkan juga cerminan keadaan batin. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan pemrosesan auditorik (APD) lebih sulit menjaga perhatian pada stimulus suara dibandingkan visual. Sementara orang dewasa yang lelah atau cemas menunjukkan waktu reaksi yang lebih lambat, bahkan ketika mereka tahu persis apa yang harus dilakukan. Faktor seperti suasana hati, motivasi, dan bahkan waktu dalam sehari dapat mengubah cara seseorang menghadapi CPT.
Jika diperhatikan, CPT sejatinya adalah potret kecil dari kehidupan sehari-hari. Kita hidup dalam arus informasi yang tiada henti, layaknya aliran stimulus dalam tes itu sendiri. Setiap notifikasi, pesan, dan suara memanggil perhatian kita. Di sinilah relevansi CPT terasa nyata: bagaimana kita bertahan di tengah derasnya distraksi? Bagaimana kita menjaga fokus tanpa kehilangan diri dalam banjir rangsangan digital?
Dalam konteks modern, CPT menjadi metafora tentang kecermatan mental di era kebisingan. Tes ini mengingatkan kita bahwa perhatian adalah sumber daya yang terbatas dan melatihnya bukan sekadar untuk performa, tapi juga untuk keberadaan diri yang utuh.
CPT, dalam kesederhanaannya, mengajarkan bahwa perhatian bukan hanya tentang melihat atau mendengar, tetapi tentang menghadirkan diri sepenuhnya. Setiap huruf yang lewat di layar menantang kita untuk melawan impuls, menunda kepuasan, dan menjaga kesadaran agar tidak hilang dalam kebisingan. Seperti kata psikolog William James, perhatian adalah bentuk tertinggi dari pilihan, kemampuan untuk memilih satu pikiran, di antara seribu yang berlomba. Dan mungkin, dalam keheningan antara satu stimulus dan stimulus berikutnya, kita belajar sesuatu yang lebih dalam: bahwa memahami perhatian, sejatinya adalah belajar memahami diri sendiri.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi
Roebuck, H., Freigang, C., & Barry, J. G. (2016). Continuous Performance Tasks: Not Just About Sustaining Attention. Journal of speech, language, and hearing research : JSLHR, 59(3), 501–510. https://doi.org/10.1044/2015_JSLHR-L-15-0068