“The eye sees only what the mind is prepared to comprehend.”
— Henri Bergson
Bayangkan seseorang diminta menyalin sebuah gambar rumit, penuh garis, bentuk, dan pola. Tampak sederhana, bukan? Tapi di balik selembar kertas dan pensil itu, tersembunyi peta kerja otak: bagaimana seseorang melihat, mengingat, dan mengatur dunia dalam pikirannya. Inilah inti dari Rey–Osterrieth Complex Figure Test (ROCF), sebuah alat yang lahir dari keinginan memahami bagaimana manusia mengolah ruang, bentuk, dan ingatan. Tes ini bukan sekadar soal meniru gambar; ia adalah cermin yang memantulkan cara seseorang berpikir.
Awalnya, ROCF digunakan untuk menilai kemampuan visuospasial dan memori visual pada pasien dengan cedera otak. Namun, seiring waktu, penelitian menunjukkan bahwa tes ini menggambarkan jauh lebih banyak: dari fungsi eksekutif, perencanaan, hingga gaya berpikir individual. Dalam pelaksanaannya, peserta diminta untuk:
- Copy Condition – menguji koordinasi visual-motorik dan kemampuan organisasi
- Immediate Recall – menilai bagaimana otak mengode informasi baru
- Delayed Recall – menguji kemampuan penyimpanan dan pengambilan long-term memory
Dari sini, psikolog dapat menafsirkan apakah kesulitan seseorang berasal dari proses pengkodean, penyimpanan, atau pengambilan informasi, 3 fase penting dalam memori manusia.
Hasil ROCF tidak hanya berupa angka, tetapi juga cerita tentang bagaimana seseorang memandang dunia. Empat sistem skoring utama memberi sudut pandang berbeda tentang performa seseorang dalam tes ini:
1. Quantitative Scoring System
Sistem ini menilai akurasi dan penempatan dari 18 bagian gambar. Skor rendah pada bagian copy menunjukkan lemahnya integrasi visual dan motorik; sedangkan skor rendah pada recall menunjukkan masalah dalam memori visual. Kombinasi antara Immediate tinggi tapi Delayed rendah bisa menandakan gangguan pada proses penyimpanan memori, otak mampu menangkap, tapi tidak mempertahankan.
2. Boston Qualitative Scoring System (BQSS):
Berbeda dari sistem kuantitatif, BQSS memandang tes ini secara lebih “manusiawi”. Ia menilai 17 dimensi seperti perencanaan, kerapian, fragmentasi, hingga konfabulasi, yakni kecenderungan menambahkan elemen yang tak ada. BQSS tidak hanya berbicara tentang “seberapa tepat” seseorang menyalin, tapi juga “bagaimana cara” ia berpikir dan mengorganisasi. BQSS sering digunakan pada pasien dengan Parkinson, OCD, atau lesi frontal, karena sangat sensitif terhadap gangguan fungsi eksekutif.
3. Developmental Scoring System (DSS)
Digunakan terutama pada anak-anak, DSS menyoroti gaya kognitif dan tingkat perkembangan visual-ruang. Anak yang lebih muda cenderung fokus pada bagian-bagian kecil (part-oriented), sementara anak yang lebih tua mulai memahami struktur keseluruhan (configurational). Menariknya, temuan ini selaras dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget—di mana kemampuan berpikir logis dan sistematis tumbuh seiring usia.
4. Savage’s Scoring System
Sistem ini menilai dua hal: akurasi konstruksi dan strategi organisasi. Dengan 24 segmen yang diperiksa, sistem ini menunjukkan seberapa baik seseorang menyusun keseluruhan dari potongan kecil. Gaya menggambar yang dimulai dari detail kecil mencerminkan pendekatan yang berbeda dibanding mereka yang membangun struktur besar terlebih dahulu. Tes ini sering digunakan untuk melihat perencanaan visual—sebuah fungsi halus yang sering kali menjadi cerminan integritas lobus frontal.
ROCF mengajarkan bahwa setiap orang memiliki “gaya berpikir” yang unik. Ada yang metodis, mulai dari bentuk besar lalu mengisi detail—mereka adalah tipe perencana. Ada pula yang spontan, menggambar dari bagian kecil tanpa peduli struktur utuh—mereka cenderung intuitif dan detail-oriented. Psikolog tidak berhenti pada angka, tetapi menafsirkan makna di balik garis. Gambar yang tampak sederhana bisa menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi masalah, mengatur informasi, bahkan bagaimana ia memandang dunia secara keseluruhan.
Penelitian pada pasien OCD menunjukkan hal menarik: meski mampu menyalin gambar dengan baik, mereka sering gagal mengingatnya dengan utuh. Bukan karena ingatannya buruk, tapi karena mereka kurang efisien dalam strategi organisasi, cenderung terjebak pada detail kecil, kehilangan pola besar. Dalam konteks ini, ROCF menjadi alat yang menyingkap “cara berpikir kompulsif” tanpa perlu satu kata pun diucapkan.
ROCF, dengan segala kompleksitasnya, mengingatkan kita bahwa kognisi bukan sekadar angka atau memori, tetapi tentang bagaimana kita menata pengalaman hidup. Ia bukan hanya tes neuropsikologi, melainkan potret miniatur dari cara manusia berpikir, mengingat, dan memaknai. Seperti seseorang yang berusaha menyalin gambar rumit, hidup pun kerap menuntut kita untuk mengorganisasi kekacauan menjadi bentuk yang bermakna. Dan mungkin, di situlah nilai sejati dari tes ini: bukan hanya untuk mengukur otak, tetapi untuk memahami jiwa yang menggambar di baliknya.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Shin, Min-Sup, et al. “Clinical and Empirical Applications of the Rey–Osterrieth Complex Figure Test.” Nature Protocols, vol. 1, no. 2, 27 July 2006, pp. 892–899, https://doi.org/10.1038/nprot.2006.115.