14 November 2025

Menakar Fleksibilitas Pikiran: Kisah di Balik Wisconsin Card Sorting Test (WCST)

Ketika Otak Diuji untuk Berubah

 

Bayangkan sebuah permainan sederhana dengan tumpukan kartu. Setiap kartu memiliki warna, bentuk, dan jumlah simbol berbeda. Tugasmu: mencocokkan kartu satu per satu dengan empat kartu acuan di meja. Tidak ada petunjuk aturan, apakah kamu harus mencocokkan warna, bentuk, atau jumlah. Kamu hanya mendapat umpan balik, “benar” atau “salah.” Dan ketika kamu mulai merasa paham polanya, aturan itu tiba-tiba berubah tanpa pemberitahuan.

 

Inilah Wisconsin Card Sorting Test (WCST), tes klasik yang lahir dari tahun 1948, hasil pemikiran David A. Grant dan Esta A. Berg di Universitas Wisconsin. Ia tampak sederhana, tapi di balik tumpukan kartu itu tersembunyi cermin paling tajam untuk melihat bagaimana otak manusia menyesuaikan diri terhadap perubahan.


 

Lebih dari Sekadar Tes Kartu
 

 

WCST bukan sekadar permainan logika. Tes ini menilai kemampuan otak depan, khususnya korteks prefrontal, dalam melakukan tiga hal penting:

1. Berpikir fleksibel saat aturan berubah,

2. Mengendalikan respons otomatis, dan

3. Menyusun strategi baru ketika yang lama tak lagi berhasil.
 

Kemampuan ini dikenal sebagai fungsi eksekutif (executive function), bagian dari kecerdasan yang menentukan bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan beradaptasi dalam situasi baru. Pasien dengan gangguan di area prefrontal sering kali kesulitan dalam WCST. Mereka tetap memakai aturan lama meskipun sudah jelas salah berkali-kali, fenomena ini disebut perseverative error. Dalam keseharian, ini tampak seperti seseorang yang terus mengulang kesalahan lama, bukan karena tidak tahu, tetapi karena otaknya gagal “berpindah gigi.”


 

Saudara Dekatnya: Stroop Test dan Seni Menahan Diri

 

Untuk memahami makna WCST sepenuhnya, bayangkan ia berdialog dengan tes klasik lain yang juga menguji “kendali otak depan”: Stroop Color-Word Test (SCWT). Tes Stroop, pertama kali diperkenalkan oleh John Ridley Stroop (1935), menantang seseorang membaca kata warna seperti merah, hijau, atau biru, tetapi dicetak dengan tinta warna yang berbeda. Misalnya, kata “merah” ditulis dengan tinta hijau, dan peserta harus menyebut warna tinta, bukan membaca kata. Kedengarannya mudah, tetapi otak manusia cenderung otomatis membaca kata, bukan memproses warna. Ketika dua proses ini bertabrakan, muncullah yang disebut Stroop Effect, sebuah bentuk interference kognitif di mana respons otomatis harus dihambat oleh kontrol sadar.

 

Dalam psikologi klinis, Stroop Test dan WCST berdiri bersebelahan: Stroop mengukur kemampuan mengendalikan impuls, sedangkan WCST mengukur kemampuan berganti strategi.

Satu menantang otak untuk menahan diri, satunya lagi memintanya untuk berubah.


 

Bagaimana WCST Bekerja di Balik Layar

 

Dalam WCST, peserta diberikan 128 kartu yang harus disortir berdasarkan tiga dimensi, warna, bentuk, dan jumlah. Aturan penyortiran berubah tanpa peringatan, dan hanya umpan balik “benar” atau “salah” yang memberi petunjuk. Dari cara seseorang menyesuaikan diri terhadap perubahan aturan itu, psikolog dapat membaca banyak hal:

-  Seberapa cepat seseorang belajar dari kesalahan.

-  Apakah ia mampu mengganti strategi dengan efisien.

-  Apakah ia tetap kaku pada pola lama (perseverasi).

 

Hasil WCST biasanya dikategorikan dalam beberapa indeks:

-  Categories Completed — berapa banyak aturan baru yang berhasil ditemukan,

-  Perseverative Errors — kesalahan karena tetap berpegang pada aturan lama,

-  Failure to Maintain Set — ketidakmampuan mempertahankan strategi yang sudah benar.

 

Melalui indikator ini, psikolog menilai sejauh mana otak mampu belajar, beradaptasi, dan mengatur ulang pikirannya.


 

Dari Klinik ke Dunia Digital

 

WCST telah menjadi alat utama dalam riset neuropsikologi dan digunakan untuk menilai gangguan pada area frontal otak, seperti pada penderita skizofrenia, traumatic brain injury (TBI), atau Parkinson’s disease. Kini, WCST hadir dalam versi digital interaktif, memungkinkan peneliti memantau tidak hanya hasil akhir, tetapi juga kecepatan reaksi, pola keputusan, dan strategi berpikir real-time. Evolusi ini memperkaya pemahaman kita tentang fleksibilitas kognitif dan cara otak menavigasi perubahan kompleks.

 

Antara Fleksibilitas dan Keteguhan

 

Baik WCST maupun Stroop Test mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk menyesuaikan diri. WCST menilai: bisakah kita mengganti strategi saat dunia berubah? Stroop menilai: bisakah kita menahan dorongan otomatis agar tidak tersesat oleh kebiasaan lama? Keduanya menyingkap satu kebenaran universal: otak manusia bukan mesin yang hanya menghitung, tetapi organisme yang belajar, beradaptasi, dan—kadang—harus melawan dirinya sendiri untuk bertumbuh.


 

Warisan Psikologis

 

Sejak diciptakan lebih dari tujuh dekade lalu, WCST tetap menjadi tolok ukur bagi penilaian fungsi eksekutif manusia. Ia digunakan di rumah sakit saraf, laboratorium penelitian, hingga psikologi pendidikan. Bahkan di dunia kerja modern, prinsip-prinsip WCST mengilhami berbagai tes adaptif yang menilai fleksibilitas berpikir dan kemampuan menyusun strategi di bawah tekanan. WCST adalah metafora kehidupan: kadang aturan berubah tanpa pemberitahuan. Satu-satunya cara bertahan bukanlah menjadi yang tercepat, tetapi yang paling mampu menyesuaikan diri.


 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi

 

Scarpina, Federica, and Sofia Tagini. “The Stroop Color and Word Test.” Frontiers in Psychology, vol. 8, no. 557, 12 Apr. 2017, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.00557.


 

Artikel Terkait

26 Januari 2026
Perkembangan teknologi membawa asesmen psikologi ke ranah digital yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses. Tes online kini banyak digunakan dalam konteks pendidikan, rekrutmen, maupun pengembanga...
23 Januari 2026
Pendidikan inklusif menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dan individual. Setiap anak datang ke ruang belajar dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, psikot...
22 Januari 2026
Mengikuti tes psikologi seringkali disertai harapan tertentu tentang hasil yang akan diperoleh. Tidak jarang seseorang berharap hasil tes mengkonfirmasi gambaran diri yang selama ini diyakini. Namun,...