Bayangkan sebuah papan kecil dengan tiga batang dan beberapa bola berwarna. Tugasnya tampak sederhana: pindahkan bola-bola itu dari posisi awal menuju posisi target, mengikuti aturan tertentu, dengan langkah sesedikit mungkin. Namun di balik permainan kecil itu, tersembunyi jendela menuju salah satu kemampuan paling kompleks dalam diri manusia, kemampuan merencanakan dan berpikir ke depan. Itulah Tower of London Test (ToL), sebuah alat neuropsikologis yang diciptakan untuk menilai fungsi eksekutif otak: kemampuan untuk menyusun strategi, menyelesaikan masalah, dan mengatur langkah menuju tujuan.
Tes ini dikembangkan oleh Alan Shallice dan Tim Shallice & McCarthy pada awal 1980-an sebagai versi sederhana dari Tower of Hanoi, permainan klasik pemindahan cakram. Namun ToL tidak sekadar meniru; ia menyaring esensinya: kemampuan untuk melihat masa depan dalam pikiran sebelum bertindak. Shallice menggunakan ToL untuk meneliti pasien dengan lesi pada lobus frontal, bagian otak yang menjadi pusat fungsi eksekutif. Ia menemukan bahwa pasien dengan kerusakan di area ini cenderung kesulitan merencanakan langkah-langkah sederhana, sering kali melakukan gerakan impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya. Tes ini kemudian menjadi standar dalam neuropsikologi klinis, digunakan untuk menilai gangguan akibat cedera otak, demensia, skizofrenia, ADHD, hingga penyakit Parkinson.
Dalam bentuk fisiknya, ToL terdiri dari tiga batang vertikal dengan panjang berbeda dan beberapa bola berwarna. Peserta melihat dua konfigurasi:
1. Posisi awal (starting configuration)
2. Posisi target (goal configuration).
Tugasnya: ubah posisi awal menjadi posisi target dengan jumlah langkah sesedikit mungkin, namun harus mematuhi aturan yang ketat:
- Hanya boleh memindahkan satu bola pada satu waktu.
- Hanya bola teratas di batang yang bisa digerakkan.
- Tidak boleh memindahkan bola ke batang yang sudah penuh.
Setiap perpindahan membutuhkan pemikiran logis dan antisipasi terhadap konsekuensi langkah berikutnya. Karena itu, ToL bukan sekadar tes keterampilan motorik, ia adalah panggung kecil bagi pikiran untuk menunjukkan kemampuan perencanaannya.
ToL menguji tiga kemampuan utama yang menjadi fondasi fungsi eksekutif:
- Perencanaan dan antisipasi (planning and foresight): Peserta harus berpikir beberapa langkah ke depan — seperti pemain catur yang memprediksi gerakan lawan.
- Pemecahan masalah (problem solving): Tes ini menuntut peserta untuk mengenali pola, menghindari langkah buntu, dan menyesuaikan strategi bila rencana awal gagal.
- Pengendalian diri dan memori kerja (executive control): Setiap gerakan harus dipertimbangkan, diingat, dan diatur ulang dalam memori kerja. Satu kesalahan kecil dapat membuat seluruh strategi harus disusun kembali dari awal.
Neuroimaging menunjukkan bahwa aktivitas terbesar selama ToL terjadi di korteks prefrontal, area otak yang mengatur pengambilan keputusan, perhatian, dan pengendalian diri, wilayah yang sering disebut sebagai “direktur eksekutif” otak manusia.
Penelitian awal Shallice (1982) menunjukkan bahwa ToL sangat sensitif terhadap gangguan di lobus frontal kiri, bagian otak yang terkait dengan perencanaan terstruktur. Studi lanjutan menemukan hal serupa: pasien dengan kerusakan di area prefrontal menunjukkan penurunan performa signifikan, baik dalam akurasi maupun jumlah langkah optimal. Menariknya, penelitian pada 205 siswa sekolah dasar dan 74 dewasa muda menunjukkan bahwa kemampuan menyelesaikan ToL meningkat secara linear dengan usia. Anak kelas enam ke atas memiliki performa yang hampir setara dengan orang dewasa muda, menandakan bahwa fungsi perencanaan matang pada masa remaja akhir.
Tes ini juga menunjukkan korelasi sedang dengan Porteus Maze Test (PMT), alat ukur lain untuk fungsi perencanaan, yang menguatkan bahwa keduanya menilai komponen kognitif serupa. ToL kini digunakan tidak hanya dalam diagnosis gangguan otak, tetapi juga dalam penelitian perkembangan kognitif, psikologi anak, dan neuropsikologi klinis. Tes ini membantu klinisi memahami apakah seseorang kesulitan bukan karena lemahnya ingatan, melainkan karena cara berpikirnya tidak terencana.
Setiap gerakan dalam Tower of London sebenarnya adalah metafora kehidupan. Kita semua, dalam cara berbeda, sedang memindahkan “bola-bola” dari satu tempat ke tempat lain, membuat rencana, menimbang konsekuensi, memperbaiki kesalahan. Kadang langkahnya salah, kadang terlalu cepat. Tapi setiap percobaan melatih otak untuk berpikir lebih jauh ke depan.
Dalam konteks psikologi, ToL mengajarkan satu hal penting: berpikir sebelum bertindak bukan sekadar kebijaksanaan moral, tetapi kemampuan biologis yang diatur oleh otak. Dan ketika kemampuan itu terganggu, dunia bisa terasa seperti menara yang kehilangan puncaknya, tinggi, tapi tanpa arah.
Lebih dari empat dekade sejak Shallice memperkenalkannya, Tower of London tetap menjadi salah satu alat klasik dalam penilaian fungsi eksekutif. Dalam laboratorium modern, versi digitalnya telah dikembangkan, memungkinkan pengukuran yang presisi terhadap waktu reaksi, jumlah langkah, hingga pola strategi. Namun esensi utamanya tak berubah: ToL menilai kemampuan otak manusia untuk berpikir secara berurutan, fleksibel, dan sadar.
Bisa dibilang, ToL adalah “miniatur dari cara manusia menyusun masa depan.” Sebuah tes yang sederhana dalam bentuk, namun luar biasa dalam makna.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi
Shin, Min-Sup, et al. “Clinical and Empirical Applications of the Rey–Osterrieth Complex Figure Test.” Nature Protocols, vol. 1, no. 2, 27 July 2006, pp. 892–899, https://doi.org/10.1038/nprot.2006.115.