17 November 2025

Menelusuri Jejak Pikiran: Memahami Trail Making Test (TMT)

Di balik setiap garis yang kita hubungkan, tersembunyi kisah tentang cara otak bekerja. Begitu juga dengan Trail Making Test (TMT), sebuah tes sederhana yang tampak seperti permainan titik dan garis, namun sejatinya mampu menyingkap bagaimana manusia berpikir, memusatkan perhatian, dan beradaptasi.


 

Awal Mula dan Tujuan TMT

 

Trail Making Test pertama kali diperkenalkan oleh Ralph Reitan pada tahun 1944, sebagai bagian dari Army Individual Test Battery. Saat itu, tujuannya adalah menilai kemampuan kognitif para prajurit—seberapa cepat dan fleksibel pikiran mereka dalam situasi yang menuntut. Kini, TMT telah menjelma menjadi salah satu alat ukur neuropsikologis paling populer di dunia, digunakan dalam klinik, rumah sakit, hingga penelitian ilmiah lintas negara. Secara sederhana, TMT dirancang untuk mengukur kecepatan pemrosesan informasi, perhatian visual, dan fleksibilitas mental. Tes ini terdiri dari dua bagian: TMT-A dan TMT-B.


 

Bagian A dan B: Dua Jalur Menuju Pikiran

 

Dalam TMT-A, peserta diminta menghubungkan 25 lingkaran bernomor (1, 2, 3, dan seterusnya) dalam urutan menaik secepat mungkin. Sekilas mudah, tetapi di balik itu terdapat pengukuran yang halus — seberapa cepat mata kita menyapu medan visual, seberapa efisien otak mengolah informasi, dan seberapa fokus kita mempertahankan perhatian. Lalu datang TMT-B, versi yang lebih kompleks. Kali ini, peserta harus menghubungkan angka dan huruf secara bergantian: 1-A-2-B-3-C… hingga selesai. Di sinilah tarian kognitif itu benar-benar dimulai. Otak harus beralih di antara dua aturan berbeda, angka dan huruf, sembari menjaga urutan dan konsentrasi. 

 

Dari sinilah kita mengenal istilah “switch cost”, yaitu waktu tambahan dan upaya mental yang dibutuhkan saat berpindah dari satu pola pikir ke pola lain. Semakin tinggi switch cost, semakin besar pula tantangan fleksibilitas kognitif seseorang. Bagi orang dengan fungsi eksekutif yang sehat, perpindahan ini berlangsung cepat dan luwes; bagi mereka yang mengalami gangguan neurologis atau cedera otak, transisi ini bisa tersendat, seperti mesin yang kehilangan sinkron.


 

Cara Kerja dan Penilaian

 

Hasil TMT dinilai berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap bagian, serta jumlah kesalahan yang dilakukan. Semakin lama waktu yang diambil, semakin besar indikasi adanya penurunan fungsi kognitif. Namun, interpretasi tidak bisa berdiri sendiri. Data ini biasanya dibandingkan dengan norma populasi, mempertimbangkan faktor usia, tingkat pendidikan, dan latar budaya. Misalnya, orang lanjut usia secara alami membutuhkan waktu lebih lama, tanpa berarti mengalami gangguan klinis.

 

Dalam versi digital modern, seluruh proses dilakukan secara daring. Peserta mendapatkan instruksi jelas, kemudian menghubungkan lingkaran di layar. Sistem otomatis mencatat waktu reaksi dalam milidetik dan tingkat akurasi, lalu mengonversinya ke dalam data yang siap dianalisis. Tes semacam ini kini tidak hanya digunakan untuk penelitian akademik, tetapi juga penilaian kemampuan mengemudi, prediksi kemandirian lansia, hingga deteksi dini demensia atau cedera otak traumatik (TBI).


 

Lebih dari Sekadar Garis di Atas Kertas

 

Yang membuat TMT istimewa bukan hanya kepraktisannya, melainkan kemampuannya menangkap esensi dari fleksibilitas kognitif manusia. Di dunia yang terus berubah, kemampuan berpindah dengan cepat antara tugas, ide, dan perspektif adalah inti dari kecerdasan adaptif.

Bayangkan otak sebagai penjelajah di peta yang rumit — setiap garis yang dihubungkan dalam TMT merepresentasikan bagaimana kita menavigasi dunia: menyeimbangkan fokus dan fleksibilitas, antara keteraturan dan improvisasi. Di antara lingkaran-lingkaran itu, TMT sesungguhnya sedang memotret cara otak kita berpikir.


 

Warisan dan Relevansi di Era Modern

 

Seiring kemajuan teknologi, TMT terus bertransformasi: dari lembar kertas dan pensil menjadi platform digital yang mampu mencatat jejak kognitif secara presisi. Namun esensi utamanya tetap sama — memahami manusia melalui cara pikirnya. Dalam penelitian psikologi modern, Trail Making Test tetap menjadi alat yang elegan dalam kesederhanaannya, efektif dalam tujuannya, dan abadi dalam maknanya. Sebab pada akhirnya, setiap garis yang kita tarik bukan hanya menghubungkan titik-titik di atas kertas, tetapi juga menghubungkan kita dengan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.


 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.


 

Referensi

 

Scarpina, Federica, and Sofia Tagini. “The Stroop Color and Word Test.” Frontiers in Psychology, vol. 8, no. 557, 12 Apr. 2017, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.00557.

 

Testable Team. “Trail Making | Guide & Template | Experiments on Testable.” Testable - Create Experiments | Recruit Participants, 25 June 2024, https://tinyurl.com/yc3na99f.


 

Artikel Terkait

26 Januari 2026
Perkembangan teknologi membawa asesmen psikologi ke ranah digital yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses. Tes online kini banyak digunakan dalam konteks pendidikan, rekrutmen, maupun pengembanga...
23 Januari 2026
Pendidikan inklusif menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dan individual. Setiap anak datang ke ruang belajar dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, psikot...
22 Januari 2026
Mengikuti tes psikologi seringkali disertai harapan tertentu tentang hasil yang akan diperoleh. Tidak jarang seseorang berharap hasil tes mengkonfirmasi gambaran diri yang selama ini diyakini. Namun,...