13 November 2025

Menguji Fleksibilitas Pikiran: Memahami Wisconsin Card Sorting Test (WCST)

Awal Mula: Dari Simbol ke Pemahaman

 

Bayangkan sebuah permainan kartu sederhana. Di hadapan Anda ada empat kartu dengan warna, bentuk, dan jumlah simbol yang berbeda, misalnya satu segitiga merah, dua bintang hijau, tiga silang kuning, dan empat lingkaran biru. Di tangan Anda ada setumpuk kartu lain, dan tugas Anda hanyalah menyocokkan. Namun, tidak ada yang memberi tahu berdasarkan apa Anda harus mencocokkan, apakah warna, bentuk, atau jumlah? Satu-satunya petunjuk datang dari dua kata: “benar” atau “salah.” Dari situ, Anda mulai menebak, menganalisis, dan perlahan menemukan polanya. Namun ketika Anda baru merasa menguasai, aturan tiba-tiba berubah tanpa pemberitahuan. Anda harus beradaptasi lagi. Itulah esensi dari Wisconsin Card Sorting Test (WCST), sebuah ujian klasik tentang fleksibilitas berpikir manusia.


 

WCST lahir pada tahun 1948 di Universitas Wisconsin, hasil pemikiran David A. Grant dan Esta A. Berg. Awalnya, tes ini dirancang untuk menilai reasoning kognitif dan kemampuan seseorang beradaptasi terhadap perubahan aturan. Pada dekade 1960-an, Brenda Milner, seorang neuropsikolog terkemuka, menggunakan WCST untuk menilai kerusakan otak di area korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol perilaku. Sejak saat itu, WCST jadi salah satu “alat ukur emas” dalam neuropsikologi modern.


 

Bagaimana Tes Ini Bekerja
 

WCST menguji bagaimana seseorang berpindah dari satu pola berpikir ke pola lain, atau dalam istilah psikologi, cognitive flexibility. Peserta diminta mencocokkan kartu berdasarkan tiga dimensi: warna, bentuk, atau jumlah simbol. Setiap kali mereka membuat pilihan, sistem memberikan umpan balik: benar atau salah. Setelah beberapa kartu, aturan pencocokan berubah diam-diam. Orang yang mampu beradaptasi cepat akan segera menyadari perubahan itu dan menyesuaikan strateginya. Namun sebagian orang terus memakai aturan lama meskipun sudah salah berkali-kali, inilah yang disebut perseverative errors, bentuk kegagalan untuk mengubah pola pikir lama meski sudah jelas tidak efektif. WCST tidak hanya mengukur benar atau salah. Dari pola jawaban peserta, psikolog bisa melihat banyak hal: kemampuan memecahkan masalah, memori kerja, fleksibilitas berpikir, hingga tingkat executive function secara umum.

 

Dari Klinik ke Laboratorium Digital
 

Menariknya, WCST kini telah berevolusi ke bentuk digital dan daring, memudahkan penelitian lintas negara dan populasi. Versi modern seperti Modified WCST (M-WCST) atau computer-based WCST menyesuaikan kebutuhan zaman tanpa mengubah esensi dasarnya.
 

Dalam penelitian neuropsikologi, WCST banyak digunakan untuk memahami berbagai kondisi:

  • Prefrontal damage yang menyebabkan kesulitan beradaptasi terhadap aturan baru.
  • Skizofrenia, sekitar 70% penderita menunjukkan defisit fungsi eksekutif melalui WCST.
  • Traumatic Brain Injury (TBI), di mana jumlah perseverative errors menjadi indikator penting pemulihan fungsi otak.
  • Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), yang memperlihatkan aktivitas otak berlebih di area frontal ketika menghadapi perubahan aturan.
  • Bahkan pada anak-anak dan bilingual/multilingual, WCST digunakan untuk menilai perkembangan fungsi kognitif dan kecepatan berpikir adaptif.


 

Menakar Daya Lentur Pikiran
 

Hasil WCST tidak hanya sebatas skor. Di baliknya terdapat beragam indikator, antara lain:

  • Total Correct: jumlah jawaban benar keseluruhan.
  • Categories Completed: berapa kali peserta berhasil memahami satu aturan penuh.
  • Perseverative Errors: kesalahan akibat tetap memakai aturan lama.
  • Failure to Maintain Set: kegagalan mempertahankan pola yang sudah benar.
  • Learning to Learn: seberapa cepat seseorang meningkat dari satu tahap ke tahap lain.
     

Para peneliti menganggap WCST sebagai cermin dari kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, yang pada dasarnya adalah inti dari kecerdasan manusia. Seseorang yang mudah berubah strategi ketika situasi menuntut, biasanya menunjukkan executive function yang baik, kemampuan yang menentukan bagaimana kita berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan dalam hidup nyata.


 

Warisan dan Relevansi Modern
 

Lebih dari tujuh dekade sejak diciptakan, WCST tetap menjadi fondasi utama dalam penilaian fungsi otak tinggi. Di era digital, versi daringnya memungkinkan analisis mendalam hingga tingkat pelacakan gerak mata dan waktu reaksi. Namun di luar laboratorium, WCST menyimpan pelajaran yang lebih filosofis: bahwa kecerdasan bukanlah kemampuan untuk selalu benar, melainkan kesediaan untuk berubah ketika kebenaran bergeser. Dalam dunia yang dinamis dan penuh ketidakpastian, kemampuan menyesuaikan diri—to shift and learn again—mungkin adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan kognitif.


 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.


 

Referensi
 

Kopp, Bruno, et al. “The Reliability of the Wisconsin Card Sorting Test in Clinical Practice.” Assessment, vol. 28, no. 1, 2 Aug. 2019, pp. 248–263, https://doi.org/10.1177/1073191119866257.
 

Labvanced Team. “Wisconsin Card Sorting Test | about WCST & Online Version | Research.” Labvanced.com, 2020, https://tinyurl.com/38ym9rzp.
 

PsyToolKit Team. “Wisconsin Card Sorting Task (WCST).” Psytoolkit.org, 2009, www.psytoolkit.org/experiment-library/wcst.html.




 

Artikel Terkait

26 Januari 2026
Perkembangan teknologi membawa asesmen psikologi ke ranah digital yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses. Tes online kini banyak digunakan dalam konteks pendidikan, rekrutmen, maupun pengembanga...
23 Januari 2026
Pendidikan inklusif menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dan individual. Setiap anak datang ke ruang belajar dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, psikot...
22 Januari 2026
Mengikuti tes psikologi seringkali disertai harapan tertentu tentang hasil yang akan diperoleh. Tidak jarang seseorang berharap hasil tes mengkonfirmasi gambaran diri yang selama ini diyakini. Namun,...