27 November 2025

Paradoks Kesehatan Mental di Era Digital: Antara Self-Help dan Self-Diagnosis

Beberapa tahun terakhir, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) dipenuhi konten tentang kesehatan mental. Orang berbicara tentang anxietydepresitrauma, atau ADHD dengan cara yang santai dan terbuka. Di satu sisi, ini hal yang baik: kesadaran meningkat, stigma berkurang, dan orang lebih berani mencari bantuan.

 

Namun, di sisi lain, ada masalah baru yang muncul: self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan konten internet. Banyak orang merasa “aku kayaknya punya depresi” hanya karena cocok dengan potongan gejala yang mereka lihat di video. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah kita benar-benar jadi lebih paham tentang kesehatan mental — atau justru makin bingung dan salah arah?

 

Mengapa Self-Diagnosis Terasa Menarik?

 

Secara psikologis, keinginan untuk memahami diri sendiri adalah hal yang sangat manusiawi. Menurut Aaron T. Beck, pencetus teori kognitif, manusia cenderung mencari pola untuk menjelaskan pengalaman hidupnya. Saat seseorang menemukan konten yang menggambarkan gejala yang mirip dengan yang ia rasakan, otaknya merasa “klik”  seolah-olah akhirnya menemukan jawaban.

 

Selain itu, teori Self-Determination (Deci & Ryan) menjelaskan bahwa manusia punya tiga kebutuhan dasar:

1.  Autonomy (merasa punya kendali atas hidupnya);

2.  Competence (merasa mampu);

3.  Relatedness (merasa terhubung dengan orang lain).

 

Ketika seseorang menemukan komunitas online yang berbagi pengalaman serupa, misalnya grup “anxiety survivor”, mereka merasa diterima dan dimengerti. Ini bisa sangat membantu secara emosional, terutama bagi yang tidak punya akses ke psikolog. Masalahnya, rasa “dimengerti” ini kadang datang dari sumber yang tidak benar. Orang jadi yakin dengan “diagnosa” yang belum tentu tepat.

 

 

Sisi Positif: Normalisasi dan Dukungan

 

Tidak semua dampak fenomena ini buruk. Justru, banyak hal positif yang muncul. Konten edukasi kesehatan mental membuat banyak orang sadar bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Ini menurunkan stigma, terutama di kalangan anak muda.

 

Banyak penelitian menunjukkan bahwa berbicara tentang kesehatan mental di media sosial bisa membuat orang lebih terbuka, saling mendukung, bahkan mendorong sebagian untuk mencari bantuan profesional. Dalam hal ini, media sosial bisa berfungsi sebagai “jembatan” menuju kesadaran diri.

 

 

Sisi Gelap: Label yang Salah dan Komodifikasi

 

Namun, di sisi lain, ada bahaya yang tak bisa diabaikan.

 

1.  Label yang terlalu mudah


Diagnosis dalam psikologi klinis itu rumit. Psikolog atau psikiater tidak hanya melihat gejala, tapi juga konteks, durasi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan seseorang. Ketika seseorang mendiagnosa diri hanya karena merasa “mirip” dengan deskripsi di internet, risiko salah paham besar sekali. Misalnya, perasaan sedih karena kehilangan bisa disangka depresi klinis, padahal sebenarnya reaksi normal.

 

2.  Romantisasi gangguan mental


Beberapa konten di media sosial menggambarkan gangguan mental secara estetik seperti “sad girl aesthetic” atau “trauma core” sehingga penderitaan terlihat menarik. Padahal, dalam dunia klinis, gangguan mental bukan identitas, melainkan kondisi yang perlu dipahami dan diatasi.

 

3. Komodifikasi ‘healing’ dan mindfulness


Fenomena “healing trip”, “journaling kit”, atau “mindfulness candle” menunjukkan bagaimana konsep psikologis diubah jadi barang dagangan. Mindfulness, yang seharusnya latihan kesadaran diri dan penerimaan, sering dijual tanpa makna spiritual atau klinisnya. Seperti yang dikritik oleh beberapa psikolog humanistik, praktik ini membuat healing jadi tren konsumsi, bukan proses pemulihan sejati.

 

 

Mengapa Media Sosial Berperan Besar?

 

Dari sisi sosiologi pengetahuan, Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan dan pengetahuan saling memengaruhi. Di media sosial, “pengetahuan” tentang kesehatan mental bukan lagi dimonopoli oleh akademisi atau profesional, tapi juga oleh influencercontent creator, dan algoritma. Yang paling banyak disukai dan dibagikan bukanlah yang paling benar, tapi yang paling menarik.
Inilah yang membuat banyak konten salah kaprah justru menjadi viral.

 

 

Dampak Psikologis dari Self-Diagnosis

 

Beberapa penelitian (misalnya oleh Starvaggi, 2024 dan Foster, 2024) menemukan bahwa self-diagnosis berlebihan bisa membawa efek ganda:

-  Efek positif: membuat orang merasa lebih sadar diri, lebih empatik pada diri sendiri, dan mulai memperhatikan kesehatan mentalnya.

-  Efek negatif: menimbulkan kecemasan baru “aku punya gangguan ini”, menunda pencarian bantuan profesional, dan memperkuat pola pikir bahwa semua perasaan harus diberi label penyakit.

 

Selain itu, muncul juga fenomena compassion fatigue digital yaitu kelelahan emosional karena terlalu sering terpapar cerita sedih atau trauma orang lain di internet. Alih-alih memperkuat empati, banyak orang justru mati rasa.

 

 

Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapinya?

 

1.  Gunakan media sosial secara kritis.
Cek sumber sebelum mempercayai informasi psikologi. Apakah penulisnya psikolog profesional? Apakah ada referensi ilmiahnya?

2.  Sadari batas diri.
Tidak semua perasaan negatif adalah gangguan mental. Sedih, cemas, marah, atau kehilangan arah adalah bagian alami dari kehidupan manusia.

3.  Konsultasi dengan profesional.
Self-help bisa jadi langkah awal, tapi jangan berhenti di situ. Diagnosis dan penanganan tetap perlu dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

4.  Terapkan literasi digital dan emosional.
Literasi digital membantu kita memilah informasi; literasi emosional membantu kita memahami perasaan sendiri tanpa harus langsung memberi label “sakit”.


 

Kesimpulan

 

Era digital memang membawa kemajuan besar dalam kesadaran kesehatan mental. Namun, seperti dua sisi mata uang, ia juga membawa risiko besar jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang tepat.

 

Kita hidup di masa ketika “kesehatan mental” bisa jadi hashtag, tren, bahkan produk. Tapi pada dasarnya, kesehatan mental tetaplah tentang memahami diri secara jujur, dengan cara yang ilmiah dan manusiawi. Self-help bisa menjadi awal yang baik — asal tidak berubah menjadi self-diagnosis yang menyesatkan. Yang kita butuhkan bukan sekadar content, tetapi kebijaksanaan dalam memahami diri sendiri.

 

Psikotes resmi HIMPSI dari biro psikologi Smile Consulting Indonesia menawarkan solusi asesmen psikologi yang valid dan dapat diandalkan, memastikan hasil yang optimal untuk berbagai keperluan Anda.


 

Daftar Pustaka

 

Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. New York: International Universities Press.

 

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry.

 

Foucault, M. (1965). Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason. New York: Pantheon.

 

Starvaggi, I. (2024). Review: Mental Health Misinformation on Social Media. Social Science & Medicine.

 

Foster, A. (2024). TikTok-Inspired Self-Diagnosis and Its Implications for Youth Mental Health. Journal of Media Psychology.

 

Underhill, R. (2025). Self-Diagnosis of Mental Disorders: A Qualitative Study of Discussion on Reddit. Qualitative Health Research.

 

Miyakawa, M. (2024). Critique of Modern Instrumental Mindfulness as Neoliberal Commodification. Journal of Humanistic Psychology.


 

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...