Di era rekrutmen modern, perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan tes kemampuan teknis atau wawancara formal untuk menilai calon karyawan. Kompetensi seperti kemampuan mengambil keputusan, kolaborasi, dan penyelesaian masalah menjadi semakin penting untuk diprediksi sejak proses seleksi awal. Salah satu metode yang banyak digunakan untuk tujuan ini adalah Situational Judgment Test (SJT), sebuah pendekatan asesmen yang dirancang untuk mengevaluasi bagaimana seseorang akan merespons berbagai skenario yang relevan dengan pekerjaan yang dilamar.
SJT pada dasarnya menyajikan serangkaian situasi kerja yang realistis, biasanya dalam bentuk narasi atau video, dan kandidat diminta memilih atau mengurutkan respon yang paling efektif. Tes ini bukan hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga pola pikir, nilai, dan kecenderungan perilaku. Dengan kata lain, SJT memberi gambaran lebih dekat tentang “cara kerja” seseorang di dunia nyata dibandingkan sekadar “apa yang mereka tahu” (Lievens & Motowidlo, 2016).
Keunggulan SJT adalah kemampuannya untuk memprediksi perilaku kerja di masa depan. Misalnya, pada posisi manajerial, SJT dapat dirancang untuk mengukur kemampuan memimpin dalam situasi krisis atau menghadapi konflik tim. Untuk level entry, fokusnya mungkin pada kepatuhan terhadap prosedur dan kemampuan komunikasi. Penelitian menunjukkan bahwa SJT memiliki validitas prediktif yang cukup baik, terutama untuk peran yang membutuhkan keterampilan interpersonal (Campion et al., 2014).
Selain itu, SJT membantu mengidentifikasi kandidat yang mungkin tidak unggul secara teknis tetapi memiliki potensi besar dalam hal soft skills. Dalam banyak kasus, karyawan yang memiliki kecerdasan sosial dan keterampilan pemecahan masalah yang baik dapat lebih cepat beradaptasi dan berkontribusi di lingkungan kerja. Hal ini menjadikan SJT sebagai alat seleksi yang inklusif, karena tidak sepenuhnya bergantung pada latar belakang pendidikan atau pengalaman formal.
Namun, penerapan SJT tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah isu validitas lintas budaya. Jawaban yang dianggap “paling tepat” di satu budaya bisa jadi berbeda di budaya lain. Misalnya, dalam budaya kolektivis, kandidat mungkin memilih respon yang menekankan harmoni kelompok, sedangkan dalam budaya individualis, respon yang lebih langsung dan kompetitif mungkin dianggap efektif. Oleh karena itu, perusahaan multinasional perlu melakukan adaptasi kontekstual pada skenario SJT yang digunakan (Weekley & Ployhart, 2013).
Tantangan lainnya adalah kemungkinan bias bahasa. SJT yang disajikan dalam bentuk teks panjang dapat merugikan kandidat dengan kemampuan bahasa yang terbatas, meskipun mereka memiliki keterampilan kerja yang baik. Untuk mengatasi hal ini, tren terkini menunjukkan pergeseran ke SJT berbasis video atau simulasi interaktif, yang mengurangi ketergantungan pada keterampilan membaca dan memberikan pengalaman yang lebih imersif.
Melihat manfaat dan tantangannya, SJT jelas bukan sekadar “tes tambahan” dalam rekrutmen, melainkan alat strategis untuk menyaring kandidat yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga mampu menavigasi dinamika kerja yang kompleks. Melalui desain yang tepat, SJT dapat menjadi salah satu komponen paling berharga dalam rekrutmen modern yaitu membantu perusahaan menemukan talenta yang siap menghadapi tantangan kerja nyata.
Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.
Referensi
Campion, M. C., Ployhart, R. E., & MacKenzie Jr, W. I. (2014). The state of research on situational judgment tests: A content analysis and directions for future research. Human Performance, 27(4), 283–310. https://doi.org/10.1080/08959285.2014.929693
Lievens, F., & Motowidlo, S. J. (2016). Situational judgment tests: From measures of situational judgment to measures of general domain knowledge. Industrial and Organizational Psychology, 9(1), 3–22. https://doi.org/10.1017/iop.2015.71
Weekley, J. A., & Ployhart, R. E. (2013). Situational judgment tests: Theory, measurement, and application. New York, NY: Routledge.