Dalam beberapa tahun terakhir, tes kepribadian “16 Personalities” menjadi salah satu kuis psikologi yang paling sering dibagikan di media sosial. Banyak orang membagikan hasil tes ini di Instagram, Twitter, atau TikTok, lengkap dengan tipe kepribadian mereka. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan ketertarikan publik terhadap psikologi, tetapi juga bagaimana media sosial membentuk cara orang memahami dan mengekspresikan identitas mereka.
Tes 16 Personalities sendiri merupakan adaptasi populer dari kerangka Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), yang membagi kepribadian ke dalam 16 tipe berdasarkan empat dimensi: introvert–ekstrovert, sensing–intuition, thinking–feeling, dan judging–perceiving. Meskipun versi resminya dikembangkan untuk penggunaan profesional, platform seperti 16personalities.com menghadirkannya dengan bahasa yang lebih ringan dan hasil yang mudah dipahami, sehingga siapa pun bisa mencoba tanpa biaya. Hal ini membuat tes tersebut viral di kalangan pengguna internet dari berbagai usia.
Salah satu alasan tes ini begitu populer adalah sifatnya yang memberikan validasi diri. Ketika seseorang membaca deskripsi hasil tes yang terasa “tepat” dengan kepribadian mereka, ada rasa puas dan dimengerti. Menurut studi oleh Furnham (2017), tes kepribadian populer sering diminati karena memberikan self-insight dan membantu orang mengekspresikan identitas mereka, meskipun akurasinya mungkin tidak selalu setara dengan tes psikometri profesional. Di media sosial, hasil tes ini sering digunakan sebagai bahan untuk membuat konten kreatif, seperti meme, ilustrasi karakter, hingga rekomendasi pekerjaan atau pasangan berdasarkan tipe kepribadian.
Namun, dampak media sosial pada penyebaran tes ini juga membawa sisi lain yang perlu diperhatikan. Karena sifatnya yang sederhana dan instan, banyak orang yang menganggap hasil tes tersebut sebagai “label permanen” atas diri mereka. Padahal, kepribadian manusia jauh lebih kompleks dan dinamis dibandingkan kategori tetap. Seperti yang dijelaskan oleh Pittenger (2005), penggunaan MBTI di luar konteks profesional sering kali memicu miskonsepsi, terutama jika orang menggunakannya untuk menjustifikasi perilaku atau mengabaikan potensi perkembangan diri.
Fenomena ini juga memunculkan tren tribalism di media sosial, di mana orang merasa lebih dekat dengan mereka yang memiliki tipe kepribadian sama, dan terkadang membuat stereotip terhadap tipe lain. Di sisi positif, ini dapat membangun rasa komunitas dan koneksi, namun di sisi negatifnya, bisa mengurangi keterbukaan terhadap keragaman perilaku di luar “label” kepribadian tersebut.
Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa tes 16 Personalities telah menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk mengenal konsep dasar psikologi. Di tengah dunia digital yang penuh distraksi, tes ini memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan merefleksikan siapa diri kita. Selama digunakan dengan kesadaran bahwa tes ini hanya memberikan gambaran umum, bukan kebenaran mutlak, fenomena ini bisa menjadi pengalaman positif yang menghibur sekaligus mendorong pemahaman diri. Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi
Furnham, A. (2017). The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) and promotion at work. Personality and Individual Differences, 116, 201–204. https://doi.org/10.1016/j.paid.2017.04.007
Pittenger, D. J. (2005). Cautionary comments regarding the Myers‐Briggs Type Indicator. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 57(3), 210–221. https://doi.org/10.1037/1065-9293.57.3.210