24 November 2025

The Eysenck Personality Questionnaire – Revised Abbreviated (EPQR-A)

Personality is the stable organization of character, temperament, intellect, and physique which determines a person’s unique adjustment to the environment.

— Hans J. Eysenck


 

Sebuah Upaya Menyederhanakan Kompleksitas Jiwa

 

Ketika berbicara tentang kepribadian, Hans Jürgen Eysenck menjadi salah satu nama yang tak terelakkan. Melalui karyanya, ia berusaha menjelaskan bahwa kepribadian bukan sekadar hasil pengalaman hidup, melainkan sesuatu yang tertanam dalam sistem biologis manusia.

 

Dari pemikiran inilah lahir The Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) — sebuah instrumen yang dirancang untuk mengukur struktur dasar kepribadian. Dalam perjalanannya, alat ini terus disempurnakan, hingga kemudian muncul versi yang lebih ringkas dan efisien: The Eysenck Personality Questionnaire – Revised Abbreviated (EPQR-A).

 

Versi singkat ini, dengan hanya 24 butir pernyataan, menjadi jawaban atas kebutuhan penelitian modern yang menuntut alat ukur cepat namun tetap reliabel. EPQR-A menilai tiga dimensi utama kepribadian — Psychoticism (P), Extraversion (E), dan Neuroticism (N) — serta menambahkan satu skala validitas, Lie Scale (L), untuk mengukur kejujuran respons peserta.


 

Tiga Pilar Kepribadian Menurut Eysenck

 

1. Extraversion (E) – Antara Keheningan dan Keramaian

Dimensi ini menggambarkan seberapa besar seseorang mencari stimulasi sosial. Skor tinggi menunjukkan pribadi yang spontan, ramah, dan aktif berinteraksi, sosok yang merasa hidup di tengah keramaian. Sebaliknya, skor rendah menandakan sifat pendiam, reflektif, dan lebih nyaman dalam kesunyian. Bagi Eysenck, perbedaan ini berakar pada tingkat aktivitas korteks serebral: introvert cenderung memiliki tingkat arousal yang lebih tinggi, sehingga menghindari stimulasi berlebih; sedangkan ekstrovert justru membutuhkannya untuk merasa “hidup”.



 

2. Neuroticism (N) – Ketika Emosi Menjadi Gelombang

Dimensi ini berkaitan dengan stabilitas emosional. Individu dengan skor tinggi mudah merasa cemas, mudah terguncang, dan sering mengalami naik-turun suasana hati. Sebaliknya, mereka yang rendah pada dimensi ini cenderung tenang, mantap, dan tidak mudah goyah. Penelitian menunjukkan bahwa neurotisisme sering berhubungan dengan gejala depresi dan gangguan kecemasan, menjadikannya indikator penting dalam studi kesehatan mental.


 

3. Psychoticism (P) – Keteguhan dan Ketegangan Batin

Meskipun namanya terdengar menakutkan, dimensi ini tidak berarti seseorang “psikotik”. Psychoticism atau tough-mindedness menggambarkan sejauh mana seseorang menunjukkan sifat keras, egosentris, dan kurang empati. Skor tinggi bisa menandakan kecenderungan impulsif, nonkonformis, bahkan agresif; sedangkan skor rendah mencerminkan kehangatan, kepedulian, dan rasa sosial yang tinggi. Eysenck percaya, dimensi ini memiliki akar biologis yang kompleks dan dapat menjelaskan kerentanan terhadap gangguan kepribadian tertentu.


 

Lie Scale (L): Cermin Kejujuran Diri

 

Skala ini berfungsi sebagai “penjaga” validitas jawaban. Skor tinggi pada Lie Scale menunjukkan kecenderungan seseorang untuk memberikan jawaban yang terlalu ideal, mencoba menampilkan citra diri yang baik dan sosial di mata penilai. Maka, Lie Scale membantu peneliti atau praktisi mendeteksi kemungkinan bias atau ketidaktulusan dalam pengisian.


 

Dari EPQ ke EPQR-A: Evolusi Sebuah Instrumen

 

Versi awal Eysenck Personality Questionnaire berisi 90 butir, kemudian direvisi menjadi EPQ-R dengan 100 butir untuk memperbaiki kelemahan pada skala Psychoticism. Namun, lamanya waktu pengisian membuatnya kurang praktis dalam penelitian dengan banyak variabel. Melihat kebutuhan akan instrumen yang lebih ringkas, Eysenck dan timnya mengembangkan EPQR-S (48 butir), dan akhirnya EPQR-A (24 butir). 

 

Setiap dimensi dalam EPQR-A terdiri atas enam item, dipilih berdasarkan korelasi tertinggi dengan total skor skala masing-masing. Reliabilitas internalnya cukup baik untuk skala Extraversion (0,74–0,84), Neuroticism (0,70–0,77), dan Lie Scale (0,59–0,65), meski skala Psychoticism masih menunjukkan reliabilitas rendah (0,33–0,52), kemungkinan besar karena sifat konstruknya yang kompleks dan lebih sulit diukur secara konsisten.


 

Penggunaan dan Adaptasi Lintas Budaya

 

EPQR-A telah banyak digunakan dalam berbagai konteks: dari penelitian psikologi kepribadian hingga asesmen klinis dan sumber daya manusia. Instrumen ini juga telah diadaptasi ke berbagai bahasa, termasuk Portugis dan Brasil, dengan hasil yang menunjukkan struktur faktor yang konsisten antara populasi Barat dan non-Barat. Menariknya, validitas konvergen dari skala Neuroticism terbukti kuat melalui korelasi dengan skor depresi (PHQ-9) dan kecemasan (GAD-2), memperkuat relevansinya dalam studi kesehatan mental lintas budaya.


 

Mengapa EPQR-A Penting dalam Psikologi Modern

 

Dalam dunia penelitian yang serba cepat, kepraktisan menjadi nilai tambah yang tak terelakkan. EPQR-A memungkinkan peneliti menilai kepribadian dengan efisien tanpa mengorbankan validitas konseptual. Lebih dari sekadar alat ukur, instrumen ini adalah cerminan dari upaya psikologi untuk memahami manusia dalam bentuk yang paling sederhana namun mendalam: tentang bagaimana kita bereaksi, merasa, dan berhubungan dengan dunia. Eysenck mungkin telah tiada, tetapi warisannya terus hidup — dalam setiap penelitian yang menggunakan skala kepribadian yang ia ciptakan, dan dalam setiap upaya kita mengenali diri sendiri.
 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.


 

Referensi

 

Eysenck, H. J., and S. B. G. Eysenck. “Eysenck Personality Questionnaire-Revised.” PsycTESTS Dataset, 1993, https://doi.org/10.1037/t05461-000.

 

Scheibe, V. M., Brenner, A. M., de Souza, G. R., Menegol, R., Almiro, P. A., & da Rocha, N. S. (2023). The Eysenck Personality Questionnaire Revised - Abbreviated (EPQR-A): psychometric properties of the Brazilian Portuguese version. Trends in psychiatry and psychotherapy, 45, e20210342. https://doi.org/10.47626/2237-6089-2021-0342


 

Artikel Terkait

26 Januari 2026
Perkembangan teknologi membawa asesmen psikologi ke ranah digital yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses. Tes online kini banyak digunakan dalam konteks pendidikan, rekrutmen, maupun pengembanga...
23 Januari 2026
Pendidikan inklusif menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dan individual. Setiap anak datang ke ruang belajar dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, psikot...
22 Januari 2026
Mengikuti tes psikologi seringkali disertai harapan tertentu tentang hasil yang akan diperoleh. Tidak jarang seseorang berharap hasil tes mengkonfirmasi gambaran diri yang selama ini diyakini. Namun,...