10 Desember 2025

Tes Berpikir Kritis: Mengukur Kemampuan Berpikir Logis dan Rasional di Dunia Modern

Di era informasi seperti sekarang, kita setiap hari dibombardir oleh berbagai data, opini, dan berita. Tidak semua yang kita baca benar, dan tidak semua yang terdengar logis bisa dipercaya.
Kemampuan untuk menyaring informasi, menilai argumen, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti menjadi keterampilan penting dan kemampuan inilah yang disebut berpikir kritis (critical thinking).

 

Untuk menilai sejauh mana seseorang mampu berpikir secara logis dan objektif, psikolog mengembangkan tes berpikir kritis — alat ukur yang digunakan di dunia pendidikan, seleksi kerja, dan pelatihan profesional untuk mengidentifikasi kemampuan analitis seseorang.

 

 

Apa Itu Tes Berpikir Kritis?

 

Secara sederhana, tes berpikir kritis adalah alat psikologis yang dirancang untuk menilai kemampuan seseorang dalam memahami informasi, menganalisis argumen, mengidentifikasi kesalahan berpikir (bias), dan menarik kesimpulan yang logis. Tes ini bukan sekadar mengukur “kepintaran”, melainkan bagaimana seseorang memproses informasi secara rasional dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.

 

Menurut teori klasik Ennis (1985), berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk menilai keakuratan informasi, membedakan antara fakta dan opini, mengevaluasi bukti sebelum membuat kesimpulan, mengidentifikasi kesalahan logika dalam argument dan memutuskan tindakan dengan dasar pemikiran yang rasional.

 

Sementara itu, Facione (1990) melalui model Delphi Report menjelaskan bahwa berpikir kritis terdiri dari enam keterampilan utama: interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation.

 

 

Apa yang Diukur dalam Tes Berpikir Kritis?

 

Tes berpikir kritis biasanya mengukur beberapa komponen penting berikut:

 

1) Analisis: kemampuan memecah informasi kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil agar lebih mudah dipahami.

 

2) Evaluasi: kemampuan menilai kekuatan dan kelemahan suatu argumen atau bukti.

 

3) Inferensi: kemampuan menarik kesimpulan yang logis dari data atau informasi yang tersedia.

 

4) Penalaran deduktif dan induktif: kemampuan memahami hubungan sebab-akibat dan berpikir sistematis.

 

5) Pemecahan masalah (problem solving): kemampuan menemukan solusi terbaik dari berbagai alternatif yang ada.

 

 

Mengapa Tes Berpikir Kritis Penting?

 

 

Dalam dunia profesional, berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi kunci abad ke-21. Banyak organisasi tidak hanya mencari karyawan yang pintar secara akademis, tapi juga mereka yang mampu berpikir strategis, menyelesaikan masalah kompleks, dan membuat keputusan yang matang.

 

Dalam konteks pribadi, kemampuan berpikir kritis juga membantu seseorang untuk tidak mudah termakan hoaks, menilai situasi dengan tenang, dan berpikir sebelum bereaksi. Dengan kata lain, berpikir kritis membantu kita menjadi individu yang lebih bijak dalam mengambil keputusan, baik dalam karier, hubungan sosial, maupun kehidupan sehari-hari.

 

 

Bagaimana Tes Ini Dilakukan?

 

Biasanya, tes berpikir kritis berbentuk serangkaian pertanyaan berbasis kasus atau teks. Peserta diminta untuk membaca sebuah pernyataan, lalu menentukan apakah kesimpulan yang diberikan logis, tidak logis, atau tidak dapat ditentukan berdasarkan informasi yang ada.

 

Hasil tes kemudian diinterpretasikan oleh psikolog untuk memberikan gambaran tingkat kemampuan berpikir kritis peserta apakah cenderung impulsif, analitis, skeptis, atau reflektif.

 

 

Tes Berpikir Kritis dan Pengembangan Diri

 

Kemampuan berpikir kritis bukanlah bakat bawaan, melainkan kemampuan yang dapat dilatih. Melalui latihan seperti membaca analitis, berdiskusi secara reflektif, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sudut pandang, seseorang dapat meningkatkan kemampuannya untuk berpikir lebih tajam dan rasional.

 

Tes berpikir kritis memberikan peta awal bagi individu untuk mengenali sejauh mana kemampuan berpikir logisnya, dan bagian mana yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

 

Berpikir kritis membantu kita melangkah lebih hati-hati di tengah derasnya arus informasi.
Kemampuan ini bukan hanya milik para ilmuwan atau pemimpin, tetapi keterampilan hidup yang penting bagi siapa pun yang ingin berpikir jernih dan membuat keputusan yang lebih baik.

 

Tes berpikir kritis bukan sekadar alat ukur, melainkan cermin untuk memahami cara otak kita bekerja agar kita bisa belajar, menyesuaikan, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih reflektif dan rasional.

 

Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.

 

 

Daftar Pustaka:

 

Ennis, R. H. (1985). A logical basis for measuring critical thinking skills. Educational Leadership, 43(2), 44–48.

 

Facione, P. A. (1990). Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction (The Delphi Report). American Philosophical Association.

 

Watson, G., & Glaser, E. M. (2008). Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal Manual. Pearson Education.

 

Halpern, D. F. (2014). Thought and Knowledge: An Introduction to Critical Thinking (5th ed.). Psychology Press.

 

Paul, R., & Elder, L. (2019). Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Learning and Your Life. Pearson Education.


 

Artikel Terkait

12 Januari 2026
Pendahuluan Mengambil keputusan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Setiap individu dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari keputusan sederhana hingga keputusan yang berdampak...
26 Desember 2025
Pendahuluan Kesehatan mental tidak hanya diukur dari ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga dari kemampuan individu mengembangkan pola pikir yang adaptif dan sehat. Pola pikir (mindset) yang sehat...
19 Desember 2025
Konseling merupakan proses profesional yang tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah, tetapi juga menyediakan ruang aman bagi individu untuk memahami diri. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang...