Dalam hidup dan pekerjaan, setiap orang pasti menghadapi tekanan entah itu tuntutan pekerjaan, ujian akademik, atau masalah pribadi. Tapi menariknya, tidak semua orang bereaksi sama terhadap tekanan yang sama. Ada yang tetap tenang dan fokus, sementara yang lain mudah kewalahan.
Nah, perbedaan ini dapat dijelaskan lewat apa yang disebut daya tahan psikologis (psychological endurance atau resilience) kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali setelah menghadapi kesulitan.
Untuk mengukurnya, para psikolog menggunakan tes daya tahan, sebuah alat ukur yang dirancang secara ilmiah untuk menilai sejauh mana seseorang mampu bertahan menghadapi stres, tekanan, atau tantangan hidup.
Tes daya tahan psikologis adalah alat ukur untuk menilai kemampuan seseorang dalam menghadapi dan mengelola tekanan emosional, situasi sulit, dan perubahan lingkungan. Tujuannya bukan sekadar melihat siapa yang “kuat” atau “lemah”, tetapi untuk memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap stres dan bagaimana mereka bisa mengembangkan strategi coping yang lebih adaptif.
Dalam dunia psikologi, konsep ini berakar pada teori resiliensi — istilah yang menggambarkan ketangguhan seseorang dalam menghadapi tekanan hidup. Seperti yang dijelaskan oleh Connor & Davidson (2003), resiliensi bukanlah bawaan lahir, melainkan kemampuan yang bisa dikembangkan melalui pengalaman, dukungan sosial, dan pengelolaan diri.
Tes daya tahan biasanya menilai beberapa aspek psikologis, antara lain:
1) Kemampuan mengelola stres: sejauh mana seseorang mampu tetap tenang dan rasional saat menghadapi tekanan.
2) Ketekunan dan motivasi: apakah individu tetap berusaha ketika situasi menjadi sulit, atau mudah menyerah.
3) Kontrol diri: kemampuan menahan impuls negatif dan mengatur emosi dengan stabil.
5) Optimisme dan cara berpikir positif: sejauh mana seseorang melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar, bukan ancaman.
6) Fleksibilitas kognitif: kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan arah atau tujuan.
Tes daya tahan psikologis kini banyak digunakan di berbagai konteks:
1) Dalam dunia kerja, untuk menilai kesiapan karyawan menghadapi tekanan dan tanggung jawab besar.
2) Dalam bidang pendidikan, untuk melihat bagaimana siswa menghadapi kegagalan dan mengatur motivasi belajar.
3) Dalam asesmen klinis atau konseling, untuk membantu psikolog memahami kondisi mental seseorang dalam menghadapi stres jangka panjang.
Hasil dari tes ini bisa membantu seseorang memahami kekuatan dan area yang perlu dikembangkan. Misalnya, seseorang yang cenderung mudah cemas dapat belajar teknik coping atau relaksasi yang lebih efektif, sementara yang memiliki skor daya tahan tinggi dapat diarahkan untuk peran yang membutuhkan ketangguhan tinggi.
Sering kali orang salah paham bahwa orang yang kuat mentalnya tidak pernah merasa sedih, marah, atau lelah. Padahal, daya tahan bukan berarti tidak pernah jatuh tapi mampu bangkit lagi dengan cara yang sehat. Tes daya tahan membantu kita mengenali batas diri, bukan untuk mengukur seberapa “sempurna” seseorang, melainkan untuk memahami bagaimana kita bereaksi terhadap tantangan dan bagaimana kita bisa menjadi lebih tangguh.
Tes daya tahan psikologis memberikan cermin bagi kita untuk melihat ketangguhan diri bukan untuk dihakimi, tapi untuk dikembangkan. Dengan mengenali hasilnya, kita bisa belajar cara baru menghadapi stres, memperbaiki pola pikir, dan membangun kehidupan yang lebih stabil secara emosional.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia dikenal sebagai pusat asesmen Indonesia yang memberikan berbagai layanan, termasuk jasa psikotes dan asesmen individu, dengan proses yang efisien dan hasil mendalam
Connor, K. M., & Davidson, J. R. T. (2003). Development of a new resilience scale: The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Depression and Anxiety, 18(2), 76–82.
Smith, B. W., Dalen, J., Wiggins, K., Tooley, E., Christopher, P., & Bernard, J. (2008). The Brief Resilience Scale: Assessing the ability to bounce back. International Journal of Behavioral Medicine, 15(3), 194–200.
Luthans, F., Youssef, C. M., & Avolio, B. J. (2007). Psychological Capital: Developing the Human Competitive Edge. Oxford University Press.
Reivich, K., & Shatté, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Keys to Finding Your Inner Strength and Overcoming Life's Hurdles. Broadway Books.
Masten, A. S. (2014). Ordinary Magic: Resilience in Development. Guilford Press.