Bagaimana Sistem Otak Penderita Pica Syndrome Terobsesi dengan Hal-Hal yang Tak Pantas Dimakan?
Apakah kamu pernah merasa terdorong untuk memakan sesuatu yang tidak lazim, seperti kertas, tanah, atau bahkan pasir? Mungkin kamu menganggapnya sebagai kebiasaan aneh, tetapi bagi beberapa orang, ini bisa menjadi gejala dari apa yang dikenal sebagai Pica Syndrome.
Pica Syndrome adalah gangguan makan yang ditandai dengan keinginan yang kuat dan berulang untuk mengonsumsi benda-benda yang tidak memiliki nilai gizi dan bahkan bisa berbahaya. Ini bisa termasuk segala sesuatu mulai dari kertas, tanah, kain, hingga rambut. Meskipun jarang didiskusikan secara terbuka, Pica Syndrome mempengaruhi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dan memiliki dampak serius pada kesehatan fisik dan mental individu yang terkena.
Penyebab pasti Pica Syndrome masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi para ilmuwan telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin berperan. Salah satunya adalah defisiensi nutrisi, terutama zat besi atau zinc, yang dapat memicu dorongan untuk mengonsumsi benda-benda aneh sebagai cara untuk mengganti kekurangan tersebut. Selain itu, faktor-faktor psikologis seperti stres, kecemasan, atau trauma juga dapat memainkan peran dalam perkembangan Pica Syndrome.
Basis Neurobiologis dari Pica Syndrome
Untuk memahami lebih dalam tentang Pica Syndrome, kita perlu melihat ke dalam otak dan sistem saraf. Studi neurobiologis menunjukkan bahwa terdapat perubahan dalam fungsi otak dan neurotransmitter tertentu pada individu yang mengalami Pica Syndrome. Misalnya, penelitian telah menemukan keterlibatan serotonin dan dopamin, dua neurotransmitter utama yang terkait dengan regulasi suasana hati dan dorongan makan. Ketidakseimbangan dalam neurotransmiter ini dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap makanan dan meningkatkan keinginan untuk mengkonsumsi benda-benda non-pangan.
Perlunya Penanganan dan Pengobatan
Mengatasi Pica Syndrome melibatkan pendekatan yang holistik, termasuk intervensi medis, psikologis, dan nutrisi. Terapi perilaku kognitif dan psikoterapi dapat membantu individu mengatasi dorongan mereka untuk mengonsumsi benda-benda non-pangan, sementara suplementasi nutrisi mungkin diperlukan untuk mengatasi defisiensi yang mendasarinya. Penting juga untuk memperhatikan risiko kesehatan fisik yang terkait dengan Pica Syndrome, seperti keracunan atau penyumbatan usus, yang memerlukan perawatan medis segera.
Pica Syndrome adalah gangguan serius yang memerlukan perhatian medis dan psikologis yang tepat. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang basis neurobiologisnya, diharapkan dapat dikembangkan pendekatan pengobatan yang lebih efektif untuk membantu individu yang terkena gangguan ini. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami gejala Pica Syndrome, penting untuk mencari bantuan profesional segera.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Fantie, F. William. 2014. Pica: A Clinical Handbook.
Walbert, L. Jennifer. 2013. Understanding Pica: A Guide for Clinicians and Families.