27 Mei 2025

Stigma terhadap Ayah yang Mengalami Beban Mental

Pria Juga Berderai Air Mata, Stigma Dibalik Beban Mental Sosok Ayah!

 

Berpikir tentang beban mental sering kali memunculkan gambaran tentang seorang ibu yang berjuang dengan stres dan kecemasan. Namun, bagaimana dengan ayah? Dalam realitasnya, stigma terhadap beban mental yang dialami oleh ayah seringkali terabaikan. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai fenomena ini.

 

Saat membicarakan masalah kesehatan mental, seringkali kita terjebak dalam pandangan yang mengasosiasikan perempuan dengan kepekaan emosional yang lebih besar. Akibatnya, pengalaman ayah dalam menghadapi beban mental sering kali diabaikan atau bahkan dianggap sebagai hal yang tak relevan.

 

Namun, realitanya jauh dari itu. Ayah juga memiliki tekanan dan tanggung jawab yang berat, baik dari lingkungan kerja maupun dari perannya dalam keluarga. Dalam budaya yang menekankan maskulinitas, banyak ayah yang merasa terkekang untuk mengekspresikan kelemahan atau kesulitan emosional mereka.

 

Maskulinitas dan Tekanan

 

Stigma terhadap ayah yang mengalami beban mental tidak hanya muncul dari masyarakat umum, tetapi juga dari diri mereka sendiri. Terjebak dalam konstruksi maskulinitas yang mengharuskan mereka untuk kuat dan tidak terpengaruh, banyak ayah enggan untuk mencari bantuan atau bahkan mengakui bahwa mereka sedang mengalami kesulitan.

 

Ini menciptakan lingkungan yang toksik di mana ayah merasa terisolasi dalam perjuangan mereka, tanpa tempat untuk mencurahkan atau mengekspresikan ketidakpastian dan kecemasan mereka.

 

Dampak pada Keluarga

 

Beban mental yang tidak diungkapkan dapat memiliki dampak yang serius pada hubungan keluarga. Ayah yang berjuang dengan masalah kesehatan mental cenderung menutup diri atau menarik diri dari interaksi keluarga, meninggalkan pasangan dan anak-anak merasa terasing dan tidak didukung.

 

Selain itu, ketika ayah tidak mendapat perlakuan yang sesuai untuk kesehatan mental mereka, hal ini dapat mempengaruhi pola pengasuhan dan membentuk persepsi anak-anak tentang bagaimana seharusnya seorang ayah bertindak.

 

Penting untuk mengubah pandangan masyarakat tentang peran ayah dalam menghadapi beban mental. Ini tidak hanya akan memberikan dukungan yang lebih besar bagi mereka yang berjuang, tetapi juga membuka jalan untuk hubungan yang lebih seimbang dalam keluarga.

 

Masyarakat perlu mengakui bahwa ayah memiliki hak yang sama untuk merasa rentan dan membutuhkan bantuan seperti halnya ibu. Ini membutuhkan pendekatan yang lebih inklusif terhadap kesehatan mental, dimana semua individu merasa nyaman untuk mencari bantuan dan dukungan ketika diperlukan.

 

Dalam menghadapi stigma terhadap ayah yang mengalami beban mental, peran kita sebagai masyarakat adalah untuk menghapuskan persepsi yang kuno dan membangun lingkungan yang mendukung untuk semua individu. Tidak peduli apakah ayah atau ibu, setiap orang memiliki hak untuk merasa rentan dan mencari bantuan tanpa takut akan penilaian atau diskriminasi.

 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi: 

Michie, D. (2020). The mindful dad: Simple practices to help you stress less, connect more, and enjoy fatherhood

James, S. (2017). The fatherhood principle: 10 powerful principles that will change your life and your family.


 

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...