Di zaman ketika kita bisa terhubung dengan ribuan orang hanya dengan satu klik, ironisnya, banyak dari kita justru merasa semakin kesepian. Media sosial dipenuhi notifikasi, komentar, dan “like”, tapi tetap saja ada kekosongan yang tak kunjung terisi. Mengapa?
Saat seseorang memposting foto atau cerita di media sosial, mereka mungkin mendapat respons dari puluhan orang. Tapi interaksi ini seringkali dangkal berupa emoji, komentar singkat, atau hanya “view”. Secara teknis kita memang “berinteraksi”, tapi secara emosional, belum tentu.
Hubungan manusia membutuhkan kedalaman: empati, perhatian, kehadiran. Dan itu tidak bisa sepenuhnya dipenuhi lewat layar. Media sosial bisa memperkuat koneksi yang sudah ada, tapi sering gagal membangun koneksi yang benar-benar bermakna dari nol.
Kesepian bukan sekadar soal jumlah orang di sekitar kita, melainkan soal seberapa dalam dan otentik hubungan itu. Kita bisa merasa kesepian di tengah keramaian, atau bahkan saat sedang banyak “chat” masuk. Itu karena yang kita butuhkan bukan hanya percakapan, tapi keterhubungan emosional perasaan dipahami, diterima, dan dihargai.
Ada beberapa hal yang membuat era digital memperparah rasa sepi:
1. Perbandingan sosial: Melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial bisa membuat kita merasa tertinggal, tidak cukup, atau terasing.
2. Ketergantungan pada validasi eksternal: Banyak orang mulai mengukur nilai dirinya dari jumlah like dan follower.
3. Hubungan yang instan dan sementara: Interaksi digital sering terjadi secara cepat tapi dangkal, tanpa proses membangun kepercayaan atau kedekatan yang stabil.
1. Bangun koneksi yang otentik
Cobalah hubungi satu teman dekat dan ajak bicara secara jujur, bukan hanya basa-basi. Percakapan yang dalam jauh lebih berarti daripada ratusan chat yang kosong.
2. Kurangi konsumsi pasif media sosial
Scroll tanpa tujuan hanya membuat kita merasa semakin terasing. Jadikan media sosial alat, bukan pelarian.
3. Hadiri momen secara nyata
Alih-alih membagikan setiap momen, cobalah untuk benar-benar hadir di dalamnya. Hadir secara utuh bisa menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan orang di sekitar.
4. Kenali dan akui rasa sepi
Mengakui bahwa kita merasa kesepian bukan tanda kelemahan. Justru, itu langkah awal untuk mencari koneksi yang lebih sehat dan mendalam.
Kesepian bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Itu sinyal alami dari tubuh dan jiwa bahwa kita butuh koneksi. Sama seperti rasa lapar menunjukkan kita butuh makan, kesepian menunjukkan kita butuh kedekatan emosional. Dan di dunia yang makin sibuk dan bising, mendengarkan sinyal ini justru menjadi tanda kesehatan mental yang baik.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi:
Cacioppo, J. T., & Patrick, W. (2008). Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection. W. W. Norton & Company.
The Lancet Public Health (2023). Loneliness and Social Isolation: Emerging Public Health Priorities.
Pew Research Center (2021). Social Media Use in 2021.
Psychology Today. Why We Feel Lonely Even When We’re Connected.