9 Juni 2025

Overachiever vs People Pleaser: Apakah Kamu Terjebak di Antara Keduanya?

Kita sering melihat orang-orang yang tampak “sukses” dari luar: selalu produktif, selalu membantu, selalu ada untuk semua orang. Namun, di balik semua itu, bisa jadi mereka sedang terjebak dalam dua pola perilaku psikologis yang tampak serupa tapi memiliki akar berbeda: overachiever dan people pleaser.

 

Keduanya terlihat seperti sosok yang “hebat”, tapi sebenarnya bisa menyimpan tekanan batin yang besar. Pertanyaannya, bagaimana jika kamu bukan hanya salah satunya, tapi malah terjebak di antara keduanya?

 

Memahami Perbedaan Dasarnya

 

Overachiever adalah orang yang selalu mendorong diri untuk meraih lebih banyak pencapaian, sering kali karena merasa nilai dirinya ditentukan oleh performa atau keberhasilan. Di sisi lain, people pleaser adalah orang yang sangat mengutamakan kebutuhan orang lain, bahkan sampai mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri, demi diterima atau tidak ditolak.

 

Keduanya sama-sama tampak aktif dan baik dari luar, namun motivasi di baliknya berbeda, yaitu : Overachiever termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa cukup melalui pencapaian, People pleaser termotivasi oleh ketakutan akan penolakan dan keinginan untuk disukai.

 

Apakah Kamu Mungkin Menjadi Keduanya Sekaligus?

 

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berada di titik tengah dari dua ekstrem ini. Misalnya:

 

1. Kamu mengambil lebih banyak pekerjaan dari yang sanggup kamu tangani, karena kamu ingin tampil unggul (overachiever), dan karena kamu tidak ingin mengecewakan orang lain (people pleaser).

 

2. Kamu berkata “ya” pada hampir semua permintaan, baik itu dari atasan, teman, maupun keluarga, lalu merasa kelelahan tapi sulit berkata tidak.

 

Jika kamu merasakan tekanan untuk selalu jadi yang terbaik dan selalu jadi orang yang menyenangkan bagi semua orang, bisa jadi kamu terjebak dalam dua pola ini sekaligus.

 

Apa Dampaknya Jika Dibiarkan?

 

Terjebak dalam dinamika overachiever dan people pleaser bisa membuat seseorang:

 

1. Merasa terus-menerus lelah, baik secara fisik maupun emosional.

 

2. Kehilangan arah pribadi karena terlalu sibuk memenuhi ekspektasi eksternal.

 

3. Tidak mampu beristirahat tanpa merasa bersalah.

 

4. Menekan emosi sendiri demi mempertahankan citra sempurna atau agar tidak menimbulkan konflik.

 

Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah pada burnout, kecemasan kronis, atau bahkan depresi, karena seseorang tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa benar-benar bebas menjadi dirinya sendiri.

 

Apa yang Menyebabkan Pola Ini Muncul?

 

Kedua pola ini sering kali terbentuk sejak dini melalui dinamika keluarga, lingkungan sekolah, atau budaya sosial yang menekankan prestasi dan kepatuhan. Misalnya:

 

1. Anak yang hanya dipuji ketika berprestasi bisa tumbuh menjadi overachiever karena mengaitkan cinta dan penghargaan dengan pencapaian.

 

2. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan atau konflik bisa belajar menjadi people pleaser agar merasa aman atau tidak ditolak.

 

Ketika dua kebutuhan ini (diakui karena prestasi dan diterima oleh orang lain) tumbuh bersamaan tanpa fondasi harga diri yang kuat, seseorang bisa terseret ke dalam keduanya sekaligus.

 

Bagaimana Mulai Melepaskan Diri dari Pola Ini?

 

Tidak mudah mengubah pola yang sudah terbentuk lama, tapi ada beberapa langkah yang bisa mulai dilakukan:

 

✦ Sadari Polanya

 

Kenali kapan kamu melakukan sesuatu karena benar-benar ingin, dan kapan kamu melakukannya karena takut dinilai atau ditolak.

 

✦ Belajar Menetapkan Batas

 

Mulailah dari hal kecil: katakan “tidak” pada sesuatu yang tidak sejalan dengan kapasitas atau nilai pribadimu, meskipun terasa tidak enak.

 

✦ Lepaskan Obsesi Akan Validasi

 

Perhatikan bagaimana perasaanmu ketika tidak mendapat pujian atau persetujuan. Apakah kamu tetap merasa berharga?

 

✦ Izinkan Diri untuk Tidak Sempurna

 

Berani tampil biasa saja atau menolak permintaan bukanlah kegagalan. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

 

✦ Refleksi Diri Secara Berkala

 

Menulis jurnal atau berbicara dengan profesional bisa membantu mengurai motivasi di balik tindakanmu.

 

Jadi, Siapa Kamu Sebenarnya?

 

Kita semua pasti ingin diakui dan diterima. Tapi ketika keinginan itu berubah menjadi kebutuhan yang tak pernah terpenuhi, kita bisa kehilangan arah. Menjadi produktif itu baik, menyenangkan orang juga tidak salah. Tapi jika itu membuat kamu mengorbankan kesehatan mental, waktu pribadi, dan kejujuran terhadap diri sendiri, mungkin sudah saatnya bertanya: apa sebenarnya yang sedang aku kejar?

 

Bukan tentang berhenti berusaha atau berhenti peduli pada orang lain, melainkan tentang menemukan keseimbangan antara berprestasi, memberi, dan tetap setia pada diri sendiri.

 

Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
 

Referensi:

Cain, S. (2012). Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking.

Journal of Personality and Social Psychology (2019). Self-worth Contingencies and Overachievement.

APA (American Psychological Association). (2021). People-Pleasing Behaviors and Mental Health Consequences.

Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.

Artikel Terkait

30 Januari 2026
Konseling sering dipahami sebagai solusi utama ketika seseorang menghadapi masalah psikologis atau kebingungan hidup. Dalam banyak kasus, konseling memang menjadi ruang aman untuk memahami emosi, pola...
29 Januari 2026
Dalam dunia pengembangan diri, istilah konseling, coaching, dan mentoring sering digunakan secara bergantian, seolah-olah memiliki fungsi yang sama. Padahal, masing-masing pendekatan memiliki tujuan,...
28 Januari 2026
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, konseling masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan terakhir bahkan sering dilekatkan dengan anggapan “tidak kuat” atau “tidak mampu menghadapi masalah send...