Sebagai anak pertama dalam sebuah keluarga, banyak yang merasa diberi tanggung jawab yang besar, baik dari segi akademik, sosial, bahkan emosi. Sering kali, anak pertama dipandang sebagai "pionir" dalam keluarga, yang diharapkan untuk memimpin, menjadi contoh bagi adik-adiknya, dan bahkan seringkali lebih diberi beban dalam segala hal. Meskipun menjadi anak pertama dapat memberikan kebanggaan tersendiri, ternyata ada beban tersembunyi yang jarang dibicarakan, yaitu apa yang dikenal sebagai sindrom anak pertama.
Sindrom anak pertama adalah kumpulan tekanan psikologis yang bisa dialami oleh anak pertama dalam sebuah keluarga, yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Beban yang dihadapi oleh anak pertama bisa sangat memengaruhi perkembangan pribadi mereka, terutama terkait dengan kecemasan, perasaan tidak cukup baik, dan tantangan dalam membangun hubungan sosial. Apa saja tantangan yang sebenarnya dihadapi oleh anak pertama? Mari kita bahas lebih dalam.
Sebagai anak pertama, sering kali ada harapan yang lebih tinggi dari orang tua untuk menjadi contoh yang baik. Hal ini bisa mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari nilai akademik, etika kerja, hingga perilaku sosial. Anak pertama sering kali merasa tertekan untuk memenuhi harapan ini, yang terkadang bisa menjadi beban emosional yang besar.
Dalam banyak kasus, orang tua cenderung memberikan perhatian yang lebih intens kepada anak pertama karena mereka masih belajar dalam peran mereka sebagai orang tua. Anak pertama bisa merasa bahwa mereka selalu harus sempurna, karena mereka adalah yang pertama yang diuji oleh orang tua. Ini bisa menciptakan perasaan cemas atau rasa takut gagal yang bisa terbawa sepanjang hidup.
Anak pertama sering kali diharapkan menjadi contoh atau pemimpin bagi adik-adiknya. Meskipun ini bisa mengajarkan rasa tanggung jawab, peran ini juga bisa menimbulkan tekanan yang besar. Terkadang, anak pertama merasa bahwa mereka harus selalu "menjaga" adik-adiknya atau menjadi orang yang lebih dewasa daripada usia mereka.
Tanggung jawab tambahan ini bisa membuat anak pertama merasa terisolasi, karena mereka tidak selalu bisa mengandalkan orang lain dalam keluarga untuk berbagi beban tersebut. Mereka harus menjaga keharmonisan di rumah dan sering kali merasa kesepian dalam peran tersebut.
Karena sering dianggap sebagai yang pertama, anak pertama sering merasa bahwa mereka tidak boleh melakukan kesalahan. Perasaan ini muncul karena mereka merasa bahwa orang tua mereka akan menilai mereka sebagai "percobaan" pertama dalam mendidik anak. Jika anak pertama melakukan kesalahan, ada rasa takut bahwa ini akan mencerminkan kegagalan sebagai orang tua atau kegagalan diri mereka sendiri dalam memenuhi standar yang tinggi.
Hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri mereka, karena mereka merasa setiap tindakan dan keputusan yang mereka buat harus sempurna. Akibatnya, anak pertama bisa mengalami kecemasan yang tinggi atau merasa terbebani oleh harapan yang tak realistis.
Sebagai anak pertama, sering kali mereka merasa harus menjadi “anak yang sempurna” untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian. Sebagian besar anak pertama cenderung memiliki standar yang lebih tinggi untuk diri mereka sendiri, dan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dorongan untuk berprestasi bisa mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang luar biasa, tetapi di sisi lain, hal ini juga bisa menyebabkan perasaan stres dan kelelahan yang berlebihan.
Terkadang, anak pertama cenderung mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri demi memenuhi harapan yang tinggi dari orang tua atau bahkan diri mereka sendiri. Kebutuhan mereka akan pengakuan dan persetujuan bisa menghalangi mereka untuk menikmati hidup dengan lebih santai dan tanpa tekanan.
Karena mereka sering menjadi yang pertama untuk melakukan segalanya, anak pertama kadang merasa kesepian. Mereka adalah anak yang paling sering "dicoba" oleh orang tua, yang bisa membuat mereka merasa seperti "kelinci percobaan". Perasaan ini bisa diperburuk dengan kurangnya teman sebaya yang bisa memahami pengalaman mereka.
Selain itu, perasaan terisolasi bisa muncul ketika anak pertama merasa bahwa mereka harus menjadi orang yang selalu bertanggung jawab dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Mereka mungkin merasa tidak ada tempat untuk berbagi perasaan mereka, karena mereka merasa harus selalu kuat dan mandiri.
Karena peran yang lebih banyak memberi perhatian pada keluarga dan tanggung jawab, anak pertama sering kali merasa kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin terlalu fokus pada pekerjaan rumah atau tanggung jawab di rumah sehingga tidak banyak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman sebaya mereka.
Akibatnya, anak pertama bisa merasa tidak terhubung dengan teman-teman mereka atau bahkan merasa canggung dalam situasi sosial. Mereka bisa mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya diri dalam hubungan sosial, karena mereka lebih sering menghabiskan waktu dalam peran pengasuh atau pembimbing di rumah.
Ketika anak pertama tumbuh dewasa, banyak dari mereka membawa beban harapan tinggi ini ke dalam kehidupan pribadi mereka. Mereka mungkin merasa sulit untuk menerima kegagalan atau tidak memenuhi ekspektasi, bahkan setelah mereka meninggalkan rumah. Rasa takut gagal ini bisa mengganggu mereka dalam karier, hubungan pribadi, dan kehidupan sosial mereka.
Mereka mungkin merasa bahwa mereka harus selalu menjadi yang terbaik atau paling sukses di segala hal, baik dalam karier maupun dalam kehidupan keluarga mereka sendiri. Ini bisa menyebabkan stres kronis, burnout, atau bahkan perasaan rendah diri jika mereka merasa tidak memenuhi standar yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri.
Meskipun menjadi anak pertama membawa tantangan psikologis tersendiri, ada beberapa cara untuk mengurangi beban tersebut:
✦ Mengenali dan Menerima Perasaan
Penting untuk menyadari bahwa perasaan tertekan, cemas, atau kesepian adalah hal yang normal. Mengenali dan menerima perasaan ini adalah langkah pertama dalam proses penyembuhan dan pengelolaan stres.
✦ Berbicara dengan Orang Tua
Komunikasi yang terbuka dengan orang tua sangat penting. Menyampaikan perasaan dan beban yang dirasakan dapat membantu orang tua memahami perspektif anak pertama mereka dan memberikan dukungan yang lebih baik.
✦ Menjaga Keseimbangan dalam Hidup
Penting untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan waktu pribadi. Mencari waktu untuk bersantai, berinteraksi dengan teman-teman, dan mengejar minat pribadi adalah cara untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.
✦ Memiliki Dukungan Sosial
Mencari dukungan dari teman-teman dekat, pasangan, atau seorang konselor dapat membantu anak pertama merasa lebih didukung dan kurang terisolasi. Ini memberi mereka kesempatan untuk berbagi perasaan dan mendapatkan perspektif dari orang lain.
Sindrom anak pertama sering kali membawa beban tersembunyi yang bisa memengaruhi kehidupan emosional dan psikologis seseorang. Tekanan untuk memenuhi harapan, menjadi pemimpin bagi adik-adik, dan perasaan terisolasi adalah beberapa tantangan yang sering dihadapi. Namun, dengan mengenali beban ini dan mencari dukungan yang tepat, anak pertama dapat belajar untuk mengelola perasaan mereka dan menemukan keseimbangan dalam hidup mereka.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia dikenal sebagai pusat asesmen Indonesia yang memberikan berbagai layanan, termasuk jasa psikotes dan asesmen individu, dengan proses yang efisien dan hasil mendalam.
Leman, K. (2014). The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are.
Sulloway, F. J. (1996). Born to Rebel: Birth Order, Family Dynamics, and Creative Lives.
Schachter, S., & Singer, J. E. (1962). Cognitive, Social, and Physiological Determinants of Emotional States. Psychological Review, 69(5), 379-399.