Anak pendiam seringkali disandingkan dengan anak yang aktif, seolah keduanya berada pada dua kutub yang berlawanan. Padahal, pendiam bukan berarti pasif, dan aktif bukan selalu berarti sehat secara emosional. Diam bisa menjadi tanda kehati-hatian, kedalaman berpikir, atau cara anak mengolah pengalaman sebelum mengekspresikannya.
Tidak semua anak yang pendiam memiliki masalah. Sebagian anak memang secara alami lebih tenang, reflektif, dan nyaman dengan dunianya sendiri. Namun, dalam beberapa kondisi, sikap pendiam bisa menjadi sinyal adanya tekanan emosional atau masalah kesehatan mental yang belum terungkap. Memahami perbedaan antara anak pendiam yang sehat secara psikologis dan anak pendiam yang membutuhkan bantuan menjadi kunci penting bagi orang tua.
Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab anak menjadi pendiam. Beberapa yang cukup umum di antaranya:
Ada anak yang sejak lahir memiliki temperamen introvert atau inhibited temperament. Anak dengan temperamen ini cenderung berhati-hati, tidak spontan, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dalam situasi sosial baru.
Anak yang peka secara emosional sering kali menyerap suasana sekitar dengan intens. Mereka cenderung mudah menangkap perubahan emosi orang lain, cepat merasa lelah dalam situasi sosial, serta membutuhkan ‘waktu tenang’ untuk memulihkan diri.
Anak yang pendiam bisa juga dikarenakan anak tersebut memiliki kemampuan fokus yang tinggi, mampu tahan lama mengerjakan satu aktivitas, dan cenderung lebih menikmati kegiatan individual seperti membaca, menyusun, atau menggambar.
Pola asuh yang terlalu otoriter, kurang responsif, atau minim komunikasi emosional dapat membuat anak belajar bahwa berbicara atau mengekspresikan perasaan bukanlah hal yang aman.
Pengalaman seperti bullying, kekerasan verbal, pertengkaran orang tua, atau kehilangan orang terdekat dapat membuat anak menarik diri sebagai mekanisme perlindungan diri.
Anak pendiam bisa jadi bukan tidak mau berbicara, melainkan takut salah, takut dinilai, atau takut ditolak. Ini sering terkait dengan gangguan kecemasan sosial.
Berbeda dengan orang dewasa, depresi pada anak sering muncul dalam bentuk menarik diri, kehilangan minat, dan menjadi lebih diam dari biasanya.
Memang sikap pendiam pada anak tidak selalu menjadi tanda adanya masalah pada kondisi mentalnya. Namun, orang tua perlu waspada jika sikap pendiam anak disertai dengan beberapa tanda berikut:
Jika tanda-tanda tersebut berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari anak, maka orang tua tidak boleh menganggap sepele perilaku pendiam yang ditunjukkan oleh sang anak.
Sebelum melangkah ke bantuan profesional, ada beberapa langkah awal yang dapat dilakukan orang tua:
Apabila Anda mencurigai sikap pendiam anak sebagai tanda adanya masalah psikologis pada anak Anda, tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan dengan bantuan profesional.
Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan asesmen psikologi, konseling, dan pendampingan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu. Smile Consulting Indonesia berkomitmen mendukung proses pengembangan diri secara komprehensif tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang sehat dan bermakna.
Reference:
American Psychiatric Association. (2022). DSM-5-TR: Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.). APA Publishing.
Coplan, R. J., & Rubin, K. H. (2010). Social withdrawal and shyness in childhood: History, theories, definitions, and assessments. In K. H. Rubin & R. J. Coplan (Eds.), The development of shyness and social withdrawal (pp. 3–20). Guilford Press.
Kagan, J., Reznick, J. S., & Snidman, N. (1988). Biological bases of childhood shyness. Science, 240(4849), 167–171. https://doi.org/10.1126/science.3353713
Mash, E. J., & Wolfe, D. A. (2019). Abnormal child psychology (7th ed.). Cengage Learning.
Muris, P., & Ollendick, T. H. (2015). Children who are anxious in silence: A review on selective mutism. Clinical Child and Family Psychology Review, 18(2), 151–169. https://doi.org/10.1007/s10567-015-0181-y