Pelecehan mental adalah salah satu bentuk kekerasan yang terkadang tak terlihat, namun bisa memiliki dampak yang sangat merusak pada korban. Disini, kita akan menggali psikologi di balik pelaku pelecehan mental. Apakah ada pola pikir atau karakteristik tertentu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tersebut? Dengan pemahaman yang lebih baik tentang psikologi pelaku, kita bisa lebih efektif mencegah dan mengatasi pelecehan mental.
1. Pelaku Pelecehan Mental dan Empati
Salah satu aspek penting dalam psikologi pelaku pelecehan mental adalah kurangnya empati. Pelaku cenderung sulit merasakan perasaan dan kebutuhan orang lain. Mereka mungkin memiliki kesulitan untuk menghubungkan diri dengan perasaan korban atau bahkan sepenuhnya mengabaikannya. Ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman masa lalu dan tingkat empati bawaan.
2. Kendali dan Kepuasan Pribadi
Pelaku pelecehan mental seringkali merasa perlu untuk mengendalikan orang lain. Ini bisa muncul dalam bentuk manipulasi, intimidasi, atau penolakan untuk mengakui keinginan dan hak-hak individu. Psikolog mencatat bahwa dorongan ini dapat berasal dari rasa ketidakamanan pribadi, rasa inferioritas, atau perasaan ketidakberdayaan. Mereka mencoba untuk mendapatkan kepuasan dan perasaan kuasa dengan merendahkan korban.
3. Isolasi dan Penindasan
Pelaku pelecehan mental sering berusaha untuk mengisolasi korban dari dukungan sosialnya. Mereka mungkin membatasi interaksi korban dengan teman, keluarga, atau sumber dukungan lainnya. Psikologi pelaku pelecehan menunjukkan bahwa ini dapat disebabkan oleh perasaan cemburu atau keinginan untuk menjaga kontrol penuh atas korban.
4. Kecenderungan Perilaku Pasif-Agresif
Sebagian besar pelaku pelecehan mental cenderung menghindari konfrontasi langsung. Mereka mungkin mengungkapkan ketidakpuasan atau amarah mereka melalui perilaku pasif-agresif, seperti memberikan sindiran, memutarbalikkan fakta, atau memberikan hukuman dingin. Ini seringkali merupakan strategi untuk mempertahankan kontrol tanpa terlibat dalam konflik terbuka.
5. Ketergantungan pada Manipulasi Psikologis
Salah satu karakteristik yang khas dari pelaku pelecehan mental adalah kemampuan mereka dalam manipulasi psikologis. Mereka mungkin menggunakan teknik-teknik seperti pemerasan emosional, gaslighting, atau mengancam untuk mencapai tujuan mereka. Pemahaman psikologi dan cara kerja psikologi individu seringkali digunakan untuk mencapai manipulasi ini.
Peran Keterlibatan Terapi
Penting untuk diingat bahwa pelaku pelecehan mental juga bisa mengalami masalah psikologis mereka sendiri. Terapi dapat menjadi sarana untuk memahami dan mengatasi akar masalah yang mendorong perilaku mereka. Meskipun pelecehan mental adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan, membuka dialog dan memahami perspektif psikologis pelaku dapat membantu dalam upaya pencegahan dan penyembuhan.
Dalam menangani pelecehan mental, penting untuk mendekati masalah ini dengan pemahaman yang lebih dalam tentang psikologi pelaku. Meskipun ini tidak mencoba untuk membenarkan perilaku mereka, pemahaman yang lebih baik dapat membantu kita mengidentifikasi tanda-tanda peringatan lebih cepat, mendukung korban, dan memberikan bantuan yang sesuai kepada pelaku.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi :
Evans, Patricia. 2020. The Verbally Abusive Relationship: How to Recognize It and How to Respond.