Dalam dunia psikologi, terdapat berbagai alat yang digunakan untuk memahami kemampuan dan kondisi seseorang dari aspek kognitif, emosional, maupun neurologis. Salah satu alat yang cukup dikenal adalah Bender Visual-Motor Gestalt Test, atau sering disebut Bender-Gestalt Test. Tes ini dirancang untuk menilai fungsi visual-motorik, yaitu kemampuan seseorang dalam mengoordinasikan penglihatan dengan gerakan tangan. Selain itu, tes ini juga membantu mendeteksi perkembangan sistem saraf serta kemungkinan adanya gangguan neurologis.
Bender-Gestalt Test dikembangkan oleh Lauretta Bender pada tahun 1938. Tes ini berawal dari ketertarikan Bender terhadap bagaimana otak memproses informasi visual dan mengubahnya menjadi bentuk tindakan motorik. Ia menggunakan sembilan pola geometris sederhana yang diadaptasi dari karya psikolog Gestalt seperti Wertheimer dan Koffka.
Tes ini didasarkan pada teori Gestalt yang menekankan bahwa persepsi manusia tidak dilihat secara terpisah, tetapi sebagai suatu pola atau kesatuan. Dengan demikian, ketika seseorang menyalin pola gambar pada tes ini, caranya memandang bentuk, mengingat pola, dan mereproduksi gambar dapat menggambarkan bagaimana otaknya mengorganisasi informasi visual secara keseluruhan.
Secara umum, tujuan utama Bender-Gestalt Test adalah untuk:
Tes ini sering digunakan dalam setting klinis, pendidikan, maupun neuropsikologi, karena hasilnya bisa memberikan gambaran awal mengenai kondisi kognitif dan neurologis individu.
Pelaksanaan Bender-Gestalt Test cukup sederhana. Individu diminta untuk menyalin sembilan pola geometris yang terdapat pada kartu uji ke dalam selembar kertas kosong. Pola tersebut tampak sederhana, namun memerlukan koordinasi yang baik antara penglihatan dan gerakan tangan.
Selama tes berlangsung, psikolog akan memperhatikan cara individu menggambar, seperti ketelitian, kecepatan, dan ekspresi wajah. Setelah tes selesai, hasil gambar akan dianalisis berdasarkan beberapa aspek, antara lain:
Analisis ini dilakukan secara kualitatif (melihat gaya menggambar) dan kuantitatif (menggunakan sistem skoring tertentu, seperti Hutt dan Briskin Scoring System).
Hasil Bender-Gestalt Test tidak hanya dinilai dari benar atau salahnya gambar, tetapi dari pola dan gaya menggambar yang mencerminkan fungsi otak individu.
Namun, tes ini tidak boleh digunakan secara tunggal untuk diagnosis, melainkan harus dikombinasikan dengan wawancara klinis atau alat ukur psikologis lain agar hasilnya lebih akurat.
Kelebihan:
Keterbatasan:
Kesimpulan
Bender-Gestalt Test merupakan alat psikologis yang sederhana tetapi memiliki manfaat besar dalam menilai fungsi visual-motorik dan perkembangan neurologis seseorang. Melalui analisis hasil gambar, psikolog dapat memahami bagaimana seseorang memproses informasi visual dan bagaimana otaknya bekerja dalam mengoordinasikan persepsi serta tindakan. Tes ini membantu dalam proses skrining, asesmen perkembangan, maupun evaluasi kondisi neurologis, sehingga tetap relevan digunakan hingga saat ini. Dengan demikian, Bender-Gestalt Test bukan sekadar alat untuk “menggambar pola”, tetapi juga jendela untuk memahami cara kerja otak manusia secara lebih mendalam. Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.
Referensi:
Brannigan, G. G., & Decker, S. L. (2006). The Bender-Gestalt II: Quantitative Scoring System. American Journal of Orthopsychiatry, 76(1), 10–12. https://doi.org/10.1037/0002-9432.76.1.10
Hutt, M. L., & Briskin, J. G. (1960). The Clinical Use of the Revised Bender-Gestalt Test. New York: Grune & Stratton.
Koppitz, E. M. (1963). The Bender Gestalt Test for Young Children: Research and Application. New York: Grune & Stratton.
Lezak, M. D., Howieson, D. B., & Loring, D. W. (2004). Neuropsychological Assessment (4th ed.). New York: Oxford University Press.