6 Oktober 2025

Sejarah Tes Stanford-Binet: Dari Alfred Binet hingga Kegunaan Modern

Pendahuluan

Tes kecerdasan atau IQ Test adalah salah satu alat ukur psikologi yang paling dikenal oleh masyarakat umum. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tes IQ modern berakar dari karya Alfred Binet di awal abad ke-20, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut di Amerika Serikat menjadi Stanford-Binet Intelligence Scale. Tes ini menjadi salah satu instrumen psikologi paling berpengaruh dalam memahami kemampuan intelektual manusia dan masih digunakan hingga sekarang.

Awal Mula: Alfred Binet dan Skala Binet-Simon

Sejarah tes Stanford-Binet berawal di Prancis pada tahun 1905. Alfred Binet bersama rekannya Théodore Simon ditugaskan pemerintah untuk menyusun alat yang dapat membantu mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan dukungan khusus dalam belajar. Mereka lalu menciptakan Binet-Simon Scale, tes yang berisi serangkaian soal untuk menilai kemampuan berpikir, bahasa, dan pemecahan masalah pada anak-anak. Tes ini adalah cikal bakal tes IQ, karena untuk pertama kalinya kecerdasan diukur dengan pendekatan sistematis.

Transformasi di Amerika: Lewis Terman dan Stanford-Binet

Pada tahun 1916, Lewis M. Terman, seorang psikolog dari Stanford University, mengadaptasi dan mengembangkan ulang skala Binet-Simon agar sesuai dengan konteks budaya Amerika. Versi ini kemudian dikenal sebagai Stanford-Binet Intelligence Scale.

Terman juga memperkenalkan konsep Intelligence Quotient (IQ) secara lebih luas, dengan formula:


Sejak itu, tes Stanford-Binet digunakan secara luas di sekolah, klinik, hingga militer, terutama selama Perang Dunia I, untuk membantu seleksi dan klasifikasi individu.

Perkembangan Stanford-Binet di Abad ke-20

Tes Stanford-Binet terus mengalami revisi untuk menyesuaikan perkembangan psikologi dan kebutuhan praktis. Hingga kini, tes ini sudah mencapai edisi kelima (Stanford-Binet Intelligence Scales, Fifth Edition – SB5). Revisi modern tidak hanya mengukur usia mental, tetapi juga mencakup lima faktor utama kecerdasan menurut teori Cattell-Horn-Carroll (CHC):

  1. Fluid Reasoning – kemampuan memecahkan masalah baru.
  2. Knowledge – pengetahuan umum yang dimiliki.
  3. Quantitative Reasoning – kemampuan berpikir numerik.
  4. Visual-Spatial Processing – pemahaman pola dan ruang visual.
  5. Working Memory – kemampuan mengingat dan memproses informasi jangka pendek.

Kegunaan Stanford-Binet Hingga Sekarang

Hingga saat ini, tes Stanford-Binet masih menjadi salah satu tes kecerdasan paling dihormati di dunia psikologi. Beberapa kegunaannya antara lain:

  • Pendidikan: mengidentifikasi kebutuhan khusus anak (baik gifted maupun anak dengan hambatan belajar).
  • Klinis: membantu diagnosis gangguan perkembangan atau kondisi neurologis.
  • Penelitian: memberikan data objektif dalam studi mengenai kecerdasan manusia.
  • Industri dan seleksi: meskipun lebih jarang, dapat dipakai untuk memahami profil kognitif individu di konteks tertentu.

Dengan cakupan yang luas, Stanford-Binet tetap menjadi alat ukur yang relevan meski sudah lebih dari satu abad sejak pertama kali diperkenalkan.

Kesimpulan

Sejarah Stanford-Binet menunjukkan perjalanan panjang dari eksperimen Alfred Binet di Prancis hingga menjadi instrumen psikologi modern yang dipakai di seluruh dunia. Dari membantu anak-anak di sekolah hingga mendukung penelitian canggih, Stanford-Binet telah membuktikan dirinya sebagai salah satu alat ukur psikologi paling berpengaruh dalam sejarah.

Referensi

Binet, A., & Simon, T. (1905). The development of intelligence in children. Publications de l’Université de Paris.

Kaplan, R. M., & Saccuzzo, D. P. (2018). Psychological Testing: Principles, Applications, and Issues (9th ed.). Cengage Learning.

Roid, G. H. (2003). Stanford-Binet Intelligence Scales, Fifth Edition (SB5). Itasca, IL: Riverside Publishing.

Terman, L. M. (1916). The Measurement of Intelligence. Boston: Houghton Mifflin.

Urbina, S. (2014). Essentials of Psychological Testing (2nd ed.). Wiley.

Artikel Terkait

26 Januari 2026
Perkembangan teknologi membawa asesmen psikologi ke ranah digital yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses. Tes online kini banyak digunakan dalam konteks pendidikan, rekrutmen, maupun pengembanga...
23 Januari 2026
Pendidikan inklusif menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dan individual. Setiap anak datang ke ruang belajar dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Dalam konteks ini, psikot...
22 Januari 2026
Mengikuti tes psikologi seringkali disertai harapan tertentu tentang hasil yang akan diperoleh. Tidak jarang seseorang berharap hasil tes mengkonfirmasi gambaran diri yang selama ini diyakini. Namun,...