30 Juli 2024

Bicara Besar, Bikin Geger! Kenapa Kita Suka Membesarkan Masalah?

Apakah kamu pernah merasa bahwa ada orang di sekitar kamu yang selalu membesar-besarkan masalah? Mungkin saja, kamu sendiri terjebak dalam kebiasaan tersebut tanpa kamu sadari. Mari kita telusuri bersama psikologi di balik kecenderungan manusia untuk memperbesar masalah, yang sering kali terungkap dalam cara kita berbicara.

Perilaku memperbesar masalah dapat memiliki akar yang dalam pada psikologi manusia. Sebagian besar dari kita memiliki kecenderungan untuk mengekspresikan ketidaknyamanan atau kecemasan dengan cara berbicara yang melebih-lebihkan. Ini bisa berasal dari berbagai faktor, seperti kebutuhan akan perhatian, ketidakmampuan untuk mengelola emosi, atau bahkan kebutuhan untuk merasa lebih penting.

Dalam banyak kasus, orang yang cenderung memperbesar masalah mungkin tidak sepenuhnya menyadari perilaku mereka. Mereka mungkin merasa bahwa dengan membuat masalah terdengar lebih besar, mereka akan mendapat perhatian atau dukungan yang lebih besar pula. Namun, apa yang sebenarnya terjadi adalah mereka mungkin memperburuk situasi dan membuat orang di sekitar merasa terganggu atau tidak nyaman.

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa perilaku memperbesar masalah sering kali terkait dengan kurangnya keterampilan dalam mengelola emosi. Orang yang tidak mampu mengenali dan mengelola emosi mereka dengan baik cenderung menggunakan perilaku eksternal, seperti berbicara secara berlebihan, sebagai cara untuk mengatasi ketidaknyamanan internal.

Kita juga tidak bisa mengabaikan peran lingkungan sosial dalam membentuk kebiasaan berbicara ini. Jika seseorang sering kali mendapat tanggapan positif atau perhatian ketika mereka memperbesar masalah, mereka mungkin akan terus melakukannya sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian atau dukungan.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang sering memperbesar masalah melakukannya dengan sengaja atau dengan niat yang buruk. Beberapa orang mungkin melakukan ini sebagai respons terhadap stres atau kecemasan yang mereka alami, tanpa menyadari dampak negatif dari perilaku tersebut.

Dalam mengatasi kebiasaan berbicara yang berlebihan ini, penting untuk memahami bahwa ada faktor-faktor psikologis yang terlibat. Konsultasi dengan profesional psikolog, seperti Smile Consulting Indonesia atau HIMPSI, dapat membantu individu memahami dan mengelola perilaku mereka dengan lebih baik. Dengan pengembangan keterampilan dalam mengenali dan mengelola emosi, serta dengan dukungan dari lingkungan sosial yang positif, kita dapat belajar untuk berkomunikasi dengan lebih efektif tanpa harus memperbesar masalah. Jasa psikotes online dan tes minat bakat juga dapat membantu individu memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik, membantu mereka menemukan cara untuk berbicara yang lebih seimbang dan produktif. Segera lakukan langkah untuk memahami diri sendiri dan meningkatkan kualitas komunikasimu.

Kehidupan yang lebih sehat dan bahagia dapat terbantu oleh Biro Psikologi Smile Consulting Indonesia, karena biro ini merupakan Biro Psikologi terbaik, resmi, dan teraman di Indonesia.

Referensi: 

Clark, A. David  & T. Beck, T. Aaron. 2011. The Catastrophizing Mind: How to Stop Worst-Case Thinking and Manage Anxiety.

Artikel Terkait

1 Desember 2025
Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa ada orang yang begitu mudah memahami perasaan orang lain, sementara sebagian dari kita butuh waktu untuk belajar peka? Atau kenapa ada orang yang tetap tenang saa...
27 Maret 2025
Warna adalah elemen visual yang memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi emosi dan perilaku manusia. Psikologi warna, sebagai cabang ilmu yang mempelajari hubungan ini, telah digunakan dalam ber...
27 Maret 2025
Psikologi Ketidakpastian Kita semua pernah merasa cemas atau tidak nyaman ketika menghadapi situasi yang belum pasti entah itu menanti hasil ujian, menunggu panggilan pekerjaan, atau sekadar memikirka...