Pernahkah Anda membeli satu barang baru misalnya sofa modern lalu tiba-tiba merasa karpet lama Anda tidak cocok lagi? Lalu Anda membeli karpet baru, kemudian tirai baru, dan tak lama kemudian... anggaran belanja pun ikut "terbarui". Jika iya, selamat datang di dunia Efek Diderot.
Efek Diderot adalah fenomena psikologis di mana satu pembelian baru memicu serangkaian pembelian lainnya agar semuanya terlihat “selaras” atau “layak” satu sama lain. Konsep ini berasal dari kisah filsuf Prancis Denis Diderot di abad ke-18, yang menerima jubah mahal sebagai hadiah. Begitu ia mengenakannya, ia merasa barang-barang lain di rumahnya tampak kumuh. Ia pun mulai mengganti berbagai barang untuk “menyesuaikan” dengan jubah tersebut dan akhirnya jatuh ke dalam pengeluaran beruntun.
Hari ini, fenomena ini hidup subur di era digital dan konsumerisme, di mana satu pembelian kecil bisa dengan mudah menyeret kita ke dalam lingkaran belanja yang lebih besar.
Efek Diderot tidak sekadar soal estetika atau gaya. Secara psikologis, ini terkait dengan:
1. Identitas diri: Ketika kita membeli sesuatu, apalagi yang mahal atau “berkelas”, kita tidak hanya membeli barang kita membeli citra diri baru. Otak kemudian ingin semuanya konsisten dengan identitas itu.
2. Kognisi konsistensi: Kita tidak suka hal-hal yang terasa tidak cocok atau tidak seimbang. Jadi ketika ada satu item terasa terlalu “berbeda” dengan yang lain, muncul dorongan untuk menyelaraskannya.
3. Kepuasan sesaat: Pembelian sering memberikan perasaan senang sementara. Ketika efek itu memudar, kita terdorong membeli lagi untuk mempertahankan mood positif itu.
1. Membeli smartphone baru, lalu merasa butuh casing premium, earphone baru, bahkan baju yang cocok untuk “foto unboxing”.
2. Mengganti satu furnitur, lalu tiba-tiba cat dinding terasa usang.
3. Membeli pakaian baru, lalu merasa sepatu lama jadi tidak layak.
Sering kali, kita tidak menyadari bahwa dorongan membeli lanjutan ini tidak berasal dari kebutuhan nyata, tapi dari dorongan untuk menciptakan “keserasian” psikologis.
Efek Diderot bisa terasa ringan di awal, tapi dalam jangka panjang dapat menyebabkan:
1. Pengeluaran berlebih: Anggaran pribadi atau keluarga bisa terganggu.
2. Penumpukan barang: Banyak barang yang akhirnya tidak terlalu berguna atau dipakai.
3. Kepuasan semu: Makin banyak membeli, makin terasa hampa, karena tidak ada batas pasti untuk “cukup”.
1. Sadari pola pikir ini
Langkah pertama adalah mengenali saat kita terdorong membeli sesuatu “hanya karena” ingin cocok dengan barang sebelumnya.
2. Tunda pembelian lanjutan
Beri waktu beberapa hari. Sering kali dorongan impulsif memudar setelah jeda waktu.
3. Tetapkan batas belanja tematik
Misalnya, jika Anda membeli sofa baru, tentukan bahwa Anda tidak akan mengubah bagian lain sampai 3 bulan ke depan.
4. Fokus pada fungsi, bukan hanya gaya
Tanyakan: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan atau hanya ingin terlihat "selaras".
Efek Diderot mengajarkan kita bahwa belanja bukan cuma soal barang—tapi juga soal identitas, perasaan, dan kebutuhan akan harmoni. Tidak salah ingin merasa nyaman dan cocok, tapi penting untuk tidak terjebak dalam lingkaran konsumerisme tak berujung. Karena sering kali, yang benar-benar kita butuhkan bukan barang baru—tapi cara baru melihat yang sudah kita miliki.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi:
McCracken, G. (1988). Culture and Consumption: New Approaches to the Symbolic Character of Consumer Goods and Activities. Indiana University Press.
Psychology Today. The Diderot Effect and Why It Matters.
James Clear. The Diderot Effect: Why We Want Things That Match (https://jamesclear.com/diderot-effect).
Kasser, T. (2002). The High Price of Materialism. MIT Press.